Posted by: muhden | January 14, 2009

DARI DERMAGA KE BATU PANTAI

DI DERMAGA PELABUHAN MERAK

Di dermaga pelabuhan Merak

Aku tambatkan semilir duka

Pada rinai buih laut yang

Mengelokkan dada

Walau warna senja

perlahan menutup

Hari di ujung bumi barat

Sampai menjelang gelap

Aku masih terpekur meniti

Waktu dari serpihan dukaku

Pada jejak kaki hampa

Dilantai beraspal dan

Deru mesin kapal Ferry

Membawaku pulang

Merak, 21/12/08

BATU-BATU PANTAI

Biarlah angin menampar

Wajahku yang kusut oleh waktu

Serta deburan ombak menenggelamkan

Aku ke ruang sunyi tanpa kata

Biarlah kerisauan

Menjadi tambatan akhir

Pencarian diriku pada dunia

Biarlah aku sendiri

Di atas batu-batu pantai

Yang membisu ditenggelamkan

Oleh waktu

Kelapatujuh, 21/12/08

MERAPATLAH WAHAI, KAPAL CINTAKU

Padahal, penantian adalah resah

Yang menjengkelkan sekaligus memudarkan

Hasrat rindu berkepanjangan

Padahal, pertemuan-pertemuan itulah

Yang diharapkan ‘kan tiba jua

Mengobati puncak gunung rindu ini

Yang beku disekam oleh waktu

Merapatlah wahai, kapal cintaku

Di sini aku menunggumu dalam

Perih siang dan luka malam

Merak, 21/12/08

BERDUA DI DERMAGA

Bagai burung aku dan kau terbang

Mengitari dunia ramai yang diguncang

Oleh persoalan hidup terlalu matang

Bagai dunia milik berdua

Aku dan kau duduk

Di bahu dermaga sambil

Melantunkan suara cita

Dan nyanyian tawa yang

Terdengar di mulut cinta

Merak, 21/12/08

BERDUAAN DI MASJID

Segala penat, letih dan lemas

Bergumul dalam bidak kepala dan raga

Mempertontonkan wajah-wajah tua

Di usia muda.

Segala sesal, sedih dan bahagia

Berpagutan dalam dinding keramik

Yang meniadakan warna-warna

Di lensa kelopak mata.

Segalanya berdua saja

Dalam tabir tak bertuan

Mencari nabi

Di bibir masjid.

Rumahku, 11/10/08

MEMINANG MAWAR

: Sikacamata

Seribu kumbang menghisap madu

Tujuh tangkai berduri gugur disemai angin

Tetesan embun memeluk daun

Namun cukup satu tangkai yang terpetik

Mawar merah hatimu.

Rumahku, 03/10/08

MALAM SAKSI KELAM

Kelam lebur warna

Menggulitakan mataku dikala tiba

Cahaya bulan tertumpuk di daun-daun

Lalu bintang tersangkut di reranting

Malam saksi kelam

Kisahku tenggelam di bawah lampu temaram.

Rumahku, 03/10/08

PENGEMBARAAN

Pendam jiwa sepi dalam riang

Menggapai harap jadi sendirian

Tanpa sepenggal kisah malam

Hanya hasrat membuncah tak tertahan

Mendaki diri dalam pengembaraan

Dibelantara kelam

UPI, 16-17/04/08

MENANTI RUMAH-RUMAH

Dari dulu sampai sekarang

Musim dan cuaca terus berganti

Di payungi deras hujan dan terik kemarau

Yang mematangkan isi dalam wajan

Dari dulu sampai sekarang

Penghuni bumi terus meramai

Menyanyikan lagu-lagu pop sedih

Jerit rock n’ roll dan tawa dangdut

Dari dulu sampai sekarang

Gedung-gedung terus berkembang

Menanamkan kebun-kebun pada dasar

Dan rumah-rumah menanti dihancurkan

Rumahku, 8/11/08

BIODATA

Penulis lahir di Serang 6 Juli 1987. Aktif di komunitas baca Rumah Dunia, UKM Belistra, Hima Prodi Diksatrasia dan masih tercatat sebagai mahasiswa semester VB Diksatrasia FKIP Untirta. Beberapa tulisannya pernah dimuat di Koran local dan nasional. Sekarang tinggal di Serang, komplek Hegar Alam No. 40, Ciloang.

Posted by: muhden | November 26, 2009

Perkakas ‹ WELCOME…! — WordPress

Posted by: muhden | November 26, 2009

TEROR FILM 2012


Oleh: Muhzen Den

Entah kenapa, saya merasakan sesuatu yang tak nyaman menyaksikan film 2012 yang banyak orang membicarakan film tersebut sebagai film cerita ‘Kiamat’. Namun, bagi saya film tersebut saya anggap seperti film-film biasa, yang hanya memiliki kelebihan dengan menonjolkan sisi dramatis dan tragis dari segi permainan artistik latar tempat dan imajinasi peristiwa gempa. Sehingga adegan tersebut seakan-akan menghipnotis dan meneror emosi para penonton.

Ada yang tak sejalan dengan pemikiran dan persepsi saya, ketika mendengar dan menyaksikan pemberitaan-pemberitaan baik di media massa cetak dan elektronik tentang film 2012 itu. Berbagai pemberitaan atau komentar tentang film tersebut sebagai film cerita ‘Kiamat’ dan dihubung-hubungkan dengan ramalan suku Maya dari benua Amerika, tentang peristiwa yang akan meluluh-lantakkan bahkan meniadakan dataran bumi yang kita cintai ini.

Sungguh kabar tersebut tidak mengenakkan, bahkan membuat setiap orang bertanya-tanya terutama saya sebagai penonton serta penikmat film, sehingga lewat tulisan ini ingin berbagi perasaan, pemikiran dan persepsi yang masih berkumandang di sekitar kita tentang isu ‘kiamat’ di tahun 2012.

BUKAN ‘KIAMAT’
Saya rasa, semua umat manusia yang ada di bumi ini tak akan tahu kapan itu ‘kiamat’ terjadi. Bagi hemat saya, ‘kiamat’ adalah sebuah kabar rahasia yang hanya bisa diketahui dan dikehendaki oleh Sang Pencipta alam ini – Allah SWT. Sebab, hal semacam itu tidak sembarang orang atau manusia bisa mengetahuinya, bahkan kabar ‘kiamat’ ini benar-benar privasi milik Allah SWT.

Para Rasul dan nabi tak akan tahu kapan ‘kiamat’ akan terjadi. Mereka hanya diberitahukan lewat tanda-tanda saja yang dikait-kaitkan dengan peristiwa akhir massa tersebut. Seperti bencana alam, kematian manusia, perubahan tingkah laku manusia, dan kelahiran-kelahiran ajaib yang dialami penghuni bumi beserta isinya. Dari hal itulah, yang sampai saat ini dipahami dan diyakini oleh kaum muslim khusus berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang terkandung dalam kitab suci.

Hubungannya dengan film 2012, bagi saya film tersebut hanya mengabarkan sebuah bencana alam besar yang akan terjadi di bumi. Namun menurut persepsi dan pemikiran saya tidak ada hubungannya dengan akhir peradaban hidup manusia di bumi. Agi saya film tersebut sebagai teguran atau peringatan kepada kita, agar tetap menjaga dan melestarikan alam ini, jangan sampai hancur dan rusak.

STRATEGI POLITIK-EKONOMI
Setelah menoton film 2012 tersebut, saya menemukan sebuah analisa bahwa film tersebut merupakan sebuah promosi antarnegara Amerika Serikat, China, India dan Perancis. Saya melihat yang lebih menonjol dari film 2012 adalah kerjasama politik-ekonomi antar Amerika Serikat dan China, sebagai negara-negara adidaya di dua kawasan berbeda benua; Amerika dan Asia.

Dari adegan film tersebut jelas saya menemukan sebuah keganjilan, terutama ketika adegan dimana orang-orang digiring menuju pegunungan dan di sana terdapat tiga buah kapal laut atau kapal selam. Namun, yang menjadi titik dari analisa saya adalah di dalam adegan tersebut kental sekali kerjasama antar dua negara tersebut; Amerika dan China.

Nah, dari hal tersebut saya mengambil sebuah kesimpulan bahwa film 2012, yang banyak orang menggadang-gadangkan sebagai film cerita ‘kiamat’ dan dihubungkan dengan ramalan dari suku Maya di benua Amerika, merupakan sebuah strategi politik-ekonomi. Dan kita sebagai ummat muslim yang meyakini ajaran agama Islam dengan kitab suci Al-Quran, janganlah terlalu larut meyakini pemberitaan-pemberitaan ramalan suku Maya tentang ‘kiamat’ dan tak ada hubungannya dengan film 2012.

Film 2012 hanya sebuah promosi dari dua negara adidaya Amerika Serikat dan China dalam kerjasama politik-ekonomi, sehingga pemberitaan tentang film dan kaitannya dengan ramalan ‘kiamat’ 2012 hanyalah isapan jempol belaka. Film 2012 hanya sebuah teror bagi kita, bahwa hidup kita di bumi ini hanya sementara, dan janganlah semena-mena merusak, bahkan menghacurkan sesuatu yang ada di bumi ini. Jaga dan lestarikan!

(*Muhzen Den adalah mahasiswa Diksatrasia FKIP Untirta dan relawan Rumah Dunia.

Posted by: muhden | October 26, 2008

BIARKAN PEMULA MENAPAKI DUNIANYA

Sepertinya gejala-gejala kepenulisan di Banten mulai tampak dan mengada. Beberapa tulisan anyar yang ditulis oleh penulis muda Banten, banyak memenuhi rubik budaya di media lokal, baik berupa cerpen, puisi dan esai. Mereka begitu bergejolak dan bersemangat dalam menekuni dunia menulisnya, sehingga ada kewajaran jika para pembaca bingung untuk menginterpretasikan siapa cerpenis, penyair dan esais. Sampai-sampai terpetiklah pemahaman dangkal dari benak pembaca bahwa setiap karya penulis pemula yang dimuat di media lokal sudah layak dianggap dan berhak menyandang title sebagai cerpenis, penyair dan esais. Padahal hal itu belum tentu diterima oleh pemula, karena secara mendadak dan berathati harus mengemban nama besar itu.

 

Keberadaan penulis-penulis muda yang sedang mewarnai kolom-kolom media lokal. Jangan sampai disalahartikan oleh senior-senior sebagai kompetitor yang krusial dan penting untuk ditindaklanjuti kekaryaannya. Cukuplah senior memperhatikan dari luar sebagai pembaca dan sesekali memberi wejangan sehat, agar penulis pemula semakin bersemangat dalam berkarya. Setelah benar-benar kuat dan menapak ke bumi, barulah senior ikut turun tangan untuk memberi perhatian lebih dekat lagi dan menyisir ke beberapa wilayah kesalahan yang harus diperbaiki.

 

Biarkan mereka “penulis pemula” melayang bebas menggunakan sayap-sayap kepenulisannya. Mengelilingi dunia imaji-imaji dini sampai kepuncak realita kehidupan yang sebenarnya, sehingga persoalan-persoalan yang disinggung mengenai kekurangpedulian penulis pemula dalam menulis dari segi sosial, politik dan budaya, akan mudah ditemukan. Kini saatnya penulis pemula menemukan jati dirinya, karena kekurangstabilan emosi membuat mereka terlena dan menikmati sisi kehidupannya. Bukan berarti mereka tidak peka terhadap peristiwa yang sedang terjadi dilingkungan sekitar mereka. Mereka peka, tapi ada kesukaran “bukan ke-akuannya” ketika menulis bertema sosial, politik dan budaya dibandingkan saat menulis bertema cinta atau sisi kehidupannya.

 

Penulis pemula butuh waktu untuk menyesuaikan diri dalam menekuni dunia barunya itu. Mereka butuh sebuah ruang nyaman dalam mengeksplorasikan dan mengekspresikan dirinya. Supaya mereka menemukan puncak-puncak pelampiasan jiwa di dalam dunia kepenulisan. Bukankah sebenarnya menulis adalah suatu aktivitas yang menyehatkan hati dan pikiran, agar mereka-mereka “pemula” arif memaknai sebuah peristiwa hidup ini dengan cara yang positif.

 

Membaca tulisan esai yang secara beruntun dimuat di Radar Banten dalam waktu tiga minggu ini, yang polemik tulisan berjudul Cermin Buram Kepenyairan Banten (22/6) oleh Niduparas mengawali sebuah permasalahan. Lalu ditimpali oleh Ita R. Alawiya dengan tulisannya Karya Sastra Tak Seharusnya Dijajah Tema (29/6), dan Rahmat Heldy HS pun ikuti berseloroh lewat tulisannya Cermin Bening Kepenyairan Banten, yang berlawanan dari tulisan Niduparas.

 

Dari tiga tulisan yang dimuat di koran lokal dan ditulis oleh penulis pemula tersebut. Telah menguak ketenangan dan kesunyian dunia kepenulisan di Banten, khususnya dunia kepenyairan di Banten. Mereka yang muda berharap adanya gejolak polemik ini, dapat mengasa argumentasi mereka dan mempertajam pena kepenulisan. Sehingga ramailah ranah kepenulisan di Banten yang sepi agar bergejolak kembali. Biarlah kali ini yang muda membuat perdebatan yang sebenarnya tidak ada pucuk permasalahan. Asalkan tidak terjadi hal-hal yang menyimpang dari jalur merah dunia kepenulisan. Lebih baik berdebat atau berpolemik dengan cara seperti ini, karena ada unsur pembelajaran berpikir sekaligus menulis.

 

Cermin Buram Kepenyairan Banten, Karya Sastra Tak Seharusnya Dijaja Tema dan Cermin Bening Kepenyairan Banten. Ketiga judul dan tulisan tersebut sebenarnya tidak ada maksud untuk menyinggung penyair-penyair tulen (dewasa, tua juga boleh). Hanya saja bertujuan untuk mempertanyakan status kepenyairan di Banten masih adakah? Supaya saya, kami atau kita sebagai penulis pemula sekaligus regenerasi itu tumbuh menjadi tunas yang kokoh. Selain itu, tulisan di atas juga menjurus untuk memotivasi dan membuat variasi tema agar semangat menulis yang sedang terjadi dikalangan penulis pemula terus bergelora. Mungkin dengan cara seperti ini dapat memancing penulis pemula ataupun penulis tulen untuk terus menulis.

 

Aktivitas menulis bukan sekedar menulis yang tersekat oleh peraturan-peraturan rumit. Aktivitas menulis adalah sebuah kebutuhan alamiah yang terjadi didalam diri tiap insan kehidupan. Baik itu penulis pemula, yang tidak ingin disebut dirinya penyair, cerpenis atau esais, dan juga penulis tulen yang merasa dirinya layak disebut penyair, cerpenis dan esais. Sah-sah saja sebuah anggapan itu dilontarkan, selama pembaca menganggap genre sebuah tulisan itu tak lepas dari penulisnya sendiri. Ayo menulis!

* * * *

Rumah Dunia, 7 Juli 2008

 

Muhzen Den, asli warga Ciloang dan Relawan Rumah Dunia.

 

 

 

Posted by: muhden | October 26, 2008

KEJUTAN DARI COWOK SUPERSTAR

Bel istirahat sekolah sudah berkumandang. Suaranya nyaring memenuhi lingkungan sekolah SMA Negeri 2 Serang. Beberapa siswa-siswi berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Mereka semua berpencar seperti laron yang sedang memburu cahaya lampu. Ada yang menuju ke kantin, perpustakaan, lapangan basket, nongkrong di bangku taman yang ada di sekolah dan yang masih betah di kelas pun ada. Salah satunya Tiara.

“Tir, gue boleh tanya gak?” ucap Mona ketika Tiara sedang merapikan buku pelajaranya yang tercecer di meja.

“Tanya apa, Mon?”

“Tanya apa ya? Oh, pelajaran tadi gue agak gak ngerti deh. Please…dong kasih tau Tiara. Elu kan’ tadi agaknya paham gitu,” pinta Mona agak mengiba.

“Ah, biasa saja Mon. Gue cuma sedikit nyambung aja, apa yang dijelaskan oleh pak guru tadi.” Tiara merendah diri dihadapan Mona teman sekelasnya ini.

Bagi Tiara, kelebihan atau kekurangan seseorang tak harus dijadikan alat untuk pamer ataupun untuk memanfaatkan orang lain. Dia sangat bersyukur sekali diberi kelebihan dalam hal berpikir, dan juga ia pun sangat senang bila ada teman-temannya bertanya tentang pelajaran atau apa pun.

“Ayo dong, Tir. Bantu gue.” Rengek Mona seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu pada ibunya.

Melihat sikap Mona yang agak kekanak-kanakkan itu. Tiara jadi serba salah. Akhirnya Tira pun dengan cepat berpikir, mempertimbangkannya. Setelah beberapa detik berpikir Tira pun mengiyakan.

“Iya deh.” Angguk Tiara dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya. Mona balas senyum tersebut dengan senyum kebahagiaan.

Tiara menjelaskan dengan seksama pelajaran yang baru saja diterangkan oleh pak guru, Mulai dari yang umum sampai yang khusus secara detail dengan versi Tiara sendiri. Sedangkan Mona begitu antusias dengan apa yang diucapkan oleh Tira. Ia kadang-kadang mengangguk, lalu tersenyum dan terdiam.

Sekitar beberapa menit lamanya, tiba-tiba di luar kelas terdengar ribut-ribut. Tiara dan Mona tidak begitu peduli. Tetapi lama-lama suara gaduh itu mengusik ketenangan dua cewek ini.

“Tir, ada apa ya? Kok, ramai banget di laur,” ujar Mona memalingkan mata ke luar pintu.

“Gak tahu.”

“Yuk, kita keluar sebentar. Gue jadi penasaran nih.”

“Terus, ini gimana?” tanya Tiara pada Mona.

“Ya, udah. Gak apa-apa. Aku sudah sedikit paham. Nanti dilanjutkan lagi.”

“Ya, udah kalau begitu.”

Kedua cewek itupun keluar dan melihat keramaian itu, yang ternyata dilapangan basket sedang ada pertandingan antar kelas. Yang bertanding saat itu adalah kelas 3 IPA B dengan kelas 2 IPS A.

Sebenarnya pertandingan itu biasa saja. Namun, yang membuat anak-anak cewek khususnya teriak-teriak adalah salah satu dari pemain tersebut ada yang lebih kinclong. Siapa lagi kalau bukan pioneeranak-anak kelas 2 IPS A. Sudah orangnya ganteng-ganteng, tajir pula. Wah, mana tahan cewek-cewek melihatnya.

“Mona, itu siapa sih.” Tiara menunjuk dengan tatapan mata bertanya, “kok, cewek-cewek sini, kayak kesambet gitu teriak-teriak gak jelas.”

“Ya…,biasalah. Siapa lagi kalau bukan Arsyam junior kita yang paling kece seantero sekolah.”

“Oh, namanya Arsyam.”

“Iya, emang elu belum tahu?”

“Buat apa. Gak rugi kan kalau gue gak begitu tahu tentang cowok ini.”

“Bukan begitu, Tir. Heran aja, sama elu. Apa elu gak merasa tertarik dengan cowok satu ini.”

“Ih, tertarik. Amit-amit deh.”

“Gue aja suka kalau ngelihatnya. Apalagi…”

“Ih, elu kenapa sih. Ganjen amat,  cewek tuh, jangan terlalu lemah. Kalau dia suka. Tapi kalau gak. Gimana?”

“Ya, gak apa-apa gak diterima juga. Asalkan bisa dekat dan senyumnya itu…, oh my god!”

“Mona!” teriak Tiara melihat Mona yang keganjenan ini sambil tangannya menyubit pinggang Mona.

“Auw! Sakit.”

Lagi asyik Tiara dan Mona bercanda. Tiba-tiba sebuah benda warna merah kecoklatan berbentuk bulat mendarat ke kepala Mona.

Duk!

Mona terjatuh pingsan dan Tiara terbengong kaget bercampur kalut melihat tubuh temannya roboh. Beberapa siswa-siswi yang sedang menonton berhamburan menunju ke arah Tiara.

“Aduh, tolongin dong. Mona, Mona…” panggil Tiara.

Orang-orang mengerubungi Tiara dan Mona. Pertandingan basket ditunda karena para pemainnya juga mengerubungi korban bola nyasar. Selain Tiara yang panik juga ada salah seorang cowok yang juga ikut merasa bersalah, yaitu Arsyam.

“Aduh, teh. Kenapa ini?” tampak tubuh Arsyam bersijajar dengan Tiara, “kok, pingsan sih.”

“Mau gimana lagi,” jawab Tiara singkat.

“Mon, Mona… bangun dong.”

Beberapa kali tubuh Mona digerak-gerakkan dan Mona mulai siuman. Tapi, ketika Mona sudah siuman dan melihat didepannya ada sesosok cowok yang ia kagumi. Mona pun pingsan lagi. Tiara tambah panik. Sesekali tatapan mata Tiara bertumbukkan dengan cowok ganteng bernama Arsyam ini.

“Lalu gimana ni?” ucap Tiara pada Arsyam.

“Ya, udah teh. Kita bawa ke ruang PMR aja. Siapa tahu sembuh.”

“Ya, udah. Lekas angkat,” teriak Tiara agak kesel juga.

Dan tubuh Mona diangkat ramai-ramai oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Juga Arsyam yang merasa bersalah dengan hal ini. Tiara menghembuskan nafas panjang meringankan ketegangan urat sarafnya agar emosinya tidak naik. Ia pun langsung menuju ruang PMR membantu penyembuhan Mona ditemani Arsyam, yang tidak sengaja melempar bola ke arah penonton.

“Aduh, teh. Gue minta maaf ya…” wajah ganteng Arsyam memelas di depan Tiara. Tiara sebenarnya nggak kuat melihat tampang cowok ini, sehingga ia berpura-pura juteksambil ngomong ini-itu tak karuan agar tak terlihat lemah.

* * *

Sejak peristiwa itu, setiap kali Tiara ketemu dengan cowok yang bernama Arsyam itu. Ada sesuatu yang berbeda di rasa oleh Tiara. Arsyam tampak merasa bersalah bila hadapannya, dan Arsyam selalu tersenyum untuk Tiara. Sedang Tiara hanya cuek saja. Dalam hati, Tiara merasa heran dengan cowok seganteng Arsyam mau peduli dengannya yang anti dengan cowok macam dia.

“Tiara, Arsyam senyum kok elu diam aja. Manis tahu,” celetuk Mona menggoda.

“Elu suka. Ambil aja!”

“Ye…elu kok gitu. Emang gak tertarik dengan cowok macam Arsyam. Ganteng tau…”

Ocehan-ocehan Mona membuat telinga Tiara terasa pekak. Apalagi menyebut-nyebut nama cowok ini. Kenapa sih, cewek-cewek di sekolah mengagungkan nama Arsyam. Apa kelebihannya? Cuma ganteng doang. Nggak lebih!Kata hati Tiara.

Pertemuan-pertemuan yang diakhiri dengan senyum itupun bukan sekali dua kali terjadi. Hampir setiap ada kesempatan. Arsyam selalu tebar pesona dihadapan Tiara. Padahal Tiara sendiri tidak begitu peduli dengan senyum Arsyam. Namun, lama-lama hal itu terjadi membuat Tiara bertanya pada dirinya sendiri.

Apa iya, gue sekeras itu pada cowok. Apa iya, gue gak normal. Lalu apa artinya semua ini. Arka lagi, Arka lagi! Cowok aneh itu membuat gue muak. Tapi, ada yang aneh yang gue rasa. Apakah gue tertarik dengan Arka? Ah, gak mungkin. Gue tertarik dengan cowok ini. Gue harus fokus pada pelajaran dan gak boleh leha-leha. Gue udah janji.

“Hey, ngelamun aja!” suara Mona mengejutkan Tiara.

“Ah, elu Mon. Bikin gue jantungan aja.”

“Lagian ngelamun terus. Ngelamunin siapa sih…?”

Mona seperti biasa terus saja menggoda Tiara dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Tira enggan menjawabnya.

“Jangan-jangan, temen gue lagi jatuh…” Sebelum ucapan Mona selesai. Tiara menatap tajam ke Mona sambil teriak.

“Mona…”

Mona berlari sambil tertawa, sedangkan Tiara mengejarnya dari belakang.

 * * *

Di sisi ketidaktahuan Tiara tentang gerak gerik cowok bernama Arsyam. Ternyata perasaan ini dirasakan oleh Arsyam juga. Arsyam sendiri merasa penasaran dengan cewek yang belum ia tahu dengan jelas identitasnya. Dan ia secara diam-diam mencari tahu tentang kakak kelasnya ini. Tanya sana, tanya sini. Akhirnya ketemu juga jawabannya.

“ Lani, boleh tanya gak?”

“Tentang apa? Organisasi sekolah atau pelajaran.”

“Elu kan udah kelas tiga. Ngomong-ngomong elu tahu gak dengan cewek kerudung dan berkacamata itu.”

“Yang mana maksud elu.”

“Yang orangnya agak sedikit tomboy tapi manis kalau lagi senyum.”

“Inisialnya?”

“Kalau gak salah, teman-temannya sering manggil dengan nama Tir, Tir…apa tuh?”

“Oh, maksudnya si Tiara.”

“Iya kali. Gue gak tahu persis.”

“Emang kenapa. Elu dibuat kesel sama dia?”

“Nggak. Gue cuma penasaran saja.”

“Penasaran maksud loh.”

“Maksud gue ya, cuma pengin tahu aja. Gak lebih. Tapi kalau elu tahu lebih juga gak apa-apa kasih tahu gue. Tahu gak?”

“Nggak begitu tahu. Tapi, ia anak kelas tiga paling muda di kelasnya. Coba banyangkan kelas tiga kelahiran 13 Maret 1990. Gue aja kelahiran 1988. Elu berapa?”

“Gue  sama sembilan puluh.”

“Nah, elu aja kelas dua baru segitu. Apalagi ini, gimana gak muda.”

“Iya, tapi kok kelihatannya dewasa banget.”

“Ya, gitu deh. Anaknya gak jelas. Kadang lagi tertawa kelihat manis, tapi kadang lagi diam, ih serem.”

“Wah, gitu ya. Oke deh. Masalah gampang itu.” Tiba-tiba Arsyam berkata yang membuat Lani tak mengerti.

“Maksudnya apa?”

“Ya, gak apa-apa. Thank’sya informasinya.”

Arsyam mengeloyor pergi dari hadapan Lani yang terpaku diam dengan sejuta tanya.

* * *

Lama tak berpapasan lagi dengan Arsyam cowok yang membuat hati Tiara terkadang bergetar dan kadang sebel. Namun, untuk kali ini Tiara merasa ada yang hilang. Biasanya ia ketemu dengan Arsyam yang berakhir dengan senyuman. Tapi kali ini ia merasa sepi.

“Apa benar gue jatuh cinta seperti yang dikatakan Mona? Ah, lupakan, lupakan…” kata Tiara bicara pada dirinya sendiri.

Bulan Februari sudah lewat dua minggu yang lalu dan sekarang sudah menginjak bulan Maret tepatnya untuk hari ke 13 bulan ini. Ah, genap sudah usia Tiara bulan dan hari ini juga. Tapi, tak seorangpunyang mengucapkan selamat untuknya. Hari ini tampak aneh. Mona yang selalu mengekor, kini sibuk sendiri dan nggak mau ikut dengannya. Terpaksa Tiara jalan sendiri ke kantin, dan ke perpustakaan.

Ruang perpustakaan tak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang siswa saja yang ada di dalamnya. Salah satunya Tiara yang lagi duduk di bangku besar yang ada diperpustakaan. Sambil membaca sebuah novel teenlitkegemarannya. Lagi asyiknya Tiara terlena dengan dirinya sendiri tanpa ia sadari seorang cowok mendekatinya. Siapa lagi kalau bukan Arsyam?

“Teh, sendirian aja. Boleh gue temenin?”

Tiara tak memedulikan suara itu sampai Arsyam duduk berhadapan.

“Teh, namanya Tiara ya.”

Tira sedikit tersentak. Ia mendelikan mata ke arah Arsyam yang duduk di depannya.

“Hari ini ulang tahun ya, teh Tiara.”

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Tira terganggu dan  kesal untuk menjawabnya.

“Jangan sok tahu deh!” Ketus Tiara membuat Arsyam terkejut tapi ia lalu tersenyum.

“Kalau boleh tahu, tanggal lahir teh Tiara atau Tiara aja deh. 13 Maret 1990 kan?”

Tiara tak langsung menjawab perkataan Arsyam. Ia hanya bisa berpikir keras tentang cowok ini, karena sudah mengetahui identitas dirinya. Meskipun hanya tanggal lahir, tapi bagi Tiari itu sesuatu yang mengherankan.

Di saat Tiara sedang diam dengan kondisinya saat itu. Arsyam mengeluarkan sebuah kado warna pinkdan menyodorkan langsung ke Tiara.

“Selamat ulang tahun ya.”

Tiara terkejut melihat cowok yang selama ini ia anggap menyebalkan. Ternyata memberi sebuah kejutan padanya. Ia tidak bisa berkata apa-apa dengan kejutan itu. Di hatinya Tiara hanya bisa bertanya-tanya bercampur rasa tak percaya.

”Hah, nggak salah nih?”

* * *

Rumah Dunia, 2/10/09

Penulis bernama pena Muhzen Den, adalah mahasiswa Diksatrasia FKIP Untirta dan relawan Rumah Dunia

Posted by: muhden | July 9, 2008

DARI ODE GENDERANG PESAKITAN KAIN

UNTUKMU ODE
Oleh: muhzen_den

Ku kirim segumpal rindu pada angin
Lewat mimpimimpi malam
Hingga ranting kuhempaskan pada dinding
Kebisuan waktu

Menanti tangisan alam
Saat ronggarongga rusuk
Beringsut jadi ngilu
Menempuh jarak yang tak tentu

Di mana Ode?
Ku lontar sebungkus kenang
Dalam rintih gelisah raga
Mendengar pekik kesunyian

Untukmu Ode?
Ku tumpah dalam keringat
Peluh derita senja
Menjelang waktu kesusahan
Saat hadirmu bagai samar
Gelap tak berbekas

Serang, 30 Juni 2007

GENDERANG PESAKITAN
Oleh: muhzen den

Mimpi burukmu
Tawar sejuta pilu
Yang menutup rindu mataku
Perih, geliat sepi
Menepi pada kebuntuan
Malammalam itu

Serang, 29 Juni 2007

WAJAH KAIN
Oleh: muhzen den

Hamparan rumput bergoyang rindang
Dikulum sunyi, gelak tak terhindar
Malam mati senyap
Diujung benang nista
Segurat rindu wajah
Kain hampa

Serang, 01/06/07 (22.59)

Puisi ini pernah dimuat di Koran Radar Banten.

Posted by: muhden | April 20, 2008

SENANDUNG DUSTA, DAN MIMPI PERIH

SENANDUNG HUJAN

Hujan gugur di tanah duri
Airnya mengoyak perih
Yang menggenang ke pedalaman bui
Dan mengalir di pelupuk benih
Sampai kini tak pernah bertepi

Rumahku, Januari 2008

AKU INGIN BICARA, WAHAI BELENGGU

Beri aku ruang untuk bicara
Untuk lepaskan semua kata
Boleh aku bicara?
Wahai, belenggu

Agar dapat lebur asa jiwaku
Dan pahami maksud itu
Aku ingin kau dengar keluhku
Wahai, belenggu

Rumahku, Januari 2008

DUSTA YANG KAU PILIH

Dusta yang kau pilih
Telah kau sangkarkan pada hatimu
Dusta yang kau puja
Jelmakan nasfu setan
Dusta yang kau renggut
Adalah petaka bagimu
Dusta yang kau ikat
Adalah semu bayang-bayangmu

Rumah Dunia, 22/02/2008

MIMPI PERIH

Ketika mimpi-mimpi
Berkubang pada sanubari
Riak celoteh air bersenandung
Mengucapkan kata-kata pisah
Yang berakhir pada luka

Terjatuh dalam pelukan raga
Lalu merapat erat segala
Sampai perih terus bersenandung
Dan penantian hanya ruang sepi

Ciloang, 6 Januari 2008

Posted by: muhden | February 23, 2008

Antara Mahasiswa, Handphone dan Buku

bareng-kakak.jpgKemajuan zaman modern yang diikuti oleh perkembangan ilmu teknologi telah mengubah sikap manusia. Mulai dari kebiasaan kecil sampai ke hal yang mungkin tidak disadari telah membuat manusia tak lepas dari rasa ketergantungan. Yang nantinya kelak menjadi berhala bagi dirinya sendiri. Terutama bagi kaum-kaum berada maupun kaum tak berada yang ingin disebut berada pula. Tak pelaknya hanya sebatas pamer atau sebuah kesengajaan yang ingin diperhatikan. Terutama bagi orang-orang menjunjung tinggi kehedonisan itu sendiri. <p> Read More…

Posted by: muhden | June 29, 2007

SHADIK YANG TAK BERSEPDA LAGI

“Allah tidak akan merubah nasib sebuah kaum sebelum kaum itu sendiri  yang berusaha merubahnya”( Al-quran). 

Penggalan kalimat sakti di atas menyatakan bahwa: seseorang akan berubah nasibnya apabila orang itu berusaha merubahnya atau sebaliknya. Seseorang akan berbuat nekad mengambil keputusan apabila ia telah mengatahui hambatan dan ujian yang akan dihadapi. 

Akhir Desember 2006 lalu, tepatnya malam menjelang hari raya Idul Adha 1427 Hijriyah, Rumah Dunia kedatangan seorang laki-laki yang aneh dan nekad dari Tangerang ke Serang menggunakan sepeda keranjang. Seseorang itu bernama Shadik. Dia lelaki kelahiran Jawa Tengah yang tinggal di Tangerang. Ia keukeuh sekali untuk tahu Rumah Dunia dan ingin ikut kelas menulis Rumah Dunia. Kami saat itu hanya bisa berdecak kagum dengan pengorbanan Shadik. Ternyata masih ada juga orang seperti Shadik di zaman seperti ini. Hanya untuk mencari ilmu, ia jauh-jauh datang ke Rumah Dunia dengan kendaraan tak berpolusi itu. Luar biasa! 

Sesosok lelaki aneh dan nekad itu kini tak bersepeda lagi. Ia sudah meninggalkan sepedanya setelah menyatakan menerima tawaran jadi relawan Rumah Dunia. Bahkan Shadik juga mengambil keputusan yang tak di sangka-sangka. Ada konsekuensi terhadap setiap keputusan. Kini ia rela kehilangan pekerjaannya sebagai pengantar roti hanya untuk menjadi relawan di Rumah Dunia. Yang ini lebih nekad lagi. Benar-benar orang aneh! 

Pada Kamis (10/5) siang, Shadik datang ke Rumah Dunia dengan membawa bekal sedikit baju dan buku-buku. Saat itu ia siap menjadi relawan di Rumah Dunia. Siap berjungkir-balik, tertatih, lintang-pukang, untuk menempa diri di kawah candradimuka bernama Rumah Dunia. Setelah melewati tenggang waktu selama satu bulan, kami berikan kesempatan kepada Shadik untuk memikirkan kembali resiko-resiko yang akan terjadi ketika sudah siap tempur di Rumah Dunia. Bahwa menjadi relawan itu tidak gampang dan butuh pengorbanan. ”Di sini kami tidak semata luka fisik, tetapi psikis juga!” ujar Firman Venayaksa, selaku presiden Rumah Dunia sambil terkekeh saat memba’iat Shadik sebegai relawan. Yah, di Rumah Dunia akan banyak kegiatan yang menguras energi fisik. Selain itu, benturan-benturan ide dan gagasan tak jarang melukai psikis. Apalagi Shadik adalah remaja perantauan yang singgah ke Tangerang hanya untuk mencari kerja walaupun sebagai tukang roti. Tapi, melihat semangatnya yang begitu besar kami yakin adalah orang-orang pilihan yang sudah berjodoh dengan Rumah Dunia. Ia lebih memilih mengabdi untuk orang lain ketimbang dirinya sendiri. Namun, kami dari Rumah Dunia juga akan menjamin Shadik menjadi Shadik yang benar-benar Shadik, dengan apapun caranya. Menjadi relawan yang kental dengan sebutan pelayan bukanlah sesuatu yang buruk. Melainkan sesuatu yang mulia di mata Allah khususnya dan umumnya di mata masyarakat.Derajat relawan kalau dipahami secara lurus dan sadar sama dengan dewan di DPR: Pelayan masyarakat! Lalu bukankah kita layak untuk berbangga diri? 

Kunjungan

Minggu (13/5) pagi, kesibukan Shadik sebagai relawan baru Rumah Dunia sudah dimulai. Sejak pagi tiba ia sudah tekun menyapu halaman Rumah Dunia dibantu relawan lain yang sudah lama menetap di Rumah Dunia. Salah satu kegiatan biasa disaat hari libur datang, yaitu gotong royong. Kebetulan pagi itu juga Rumah Dunia akan kedatangan tamu dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Maca Mancak.  

Sebelumnya, Sabtu (12/5) sore, Rumah Dunia juga kedatangan dua orang  tamu dari Depok. Mereka adalah Mas Erwin dan Mahat. Tujuan mereka hanya untuk lebih tahu tentang Rumah Dunia. Karena sebelumnya Mas Erwin dan Mahat ini pernah membuat sanggar tapi tak bertahan lama. Jadi dengan datang ke Rumah Dunia semoga saja mereka dapat membangun kembali sanggarnya yang baru dengan konsep baru juga. Tahan lama juga. 

Jam 9.00 di pelataran Rumah Dunia sudah ramai oleh peserta Tralis FLP Serang dan kelas sekenario yang biasa diadakan tiap seminggu sekali. Tapi, tamu yang di tunggu-tunggu itu belum juga datang. Sampai menginjak siang hari dan sedikit turun hujan.  Akhirnya tamu dari TBM Maca Mancak itu pun datang tepatnya jam 12.30, dengan membawa 40 orang anak beserta mentor-mentornya. Kedatangan mereka disambut banyak orang yang ada di Rumah Dunia. Tujuan dari mereka tak lain kujungan biasa sekaligus perkenalan bahwa di Kecamatan Mancak Kp. Blokang telah berdiri sebuah komunitas taman baca masyarakat yang bernama Maca Mancak semenjak 2004. TBM tersebut diketuai oleh Masrori dan kawan-kawan. Intinya hampir sama dengan visi-misi Rumah Dunia. Yaitu mencerdaskan generasi baru. Semoga saja ini menjadi semangat kampung-kampung lain yang ada di Banten khususnya. 

Acara dimulai dengan sambutan perwakilan dari TBM Maca Mancak yang bawakan oleh Masrori lalu diambil alih oleh Kiki Zakia alumni Kelas Menulis Angkatan 4 sebagai MC. Dilanjut dengan perkenalan relawan Rumah Dunia serta dilanjut dengan kreasi anak-anak dari TBM Maca Mancak dengan menampilkan pembacaan puisi dan nyanyi. Teh Mita, istri presiden Rumah Dunia juga ikut mendongeng untuk anak-anak dari Mancak itu. Sedangkan Rosmiati dan Epir tidak mau kalah. Mereka juga menampilkan pembacaan puisinya. Dan di akhir acara ada tanya jawab dari Kiki Zakia sebagai MC dengan memberikan beberapa hadiah untuk anak-anak dari Mancak yang berani menjawab dan berani tampil di depan panggung. Setelah itu, Tyas Tatanka sebagai penasehat Rumah Dunia juga memberikan petuah kecilnya untuk anak-anak dari TBM Maca Mancak. Sampai acara selesai dan tamu dari TBM Maca Mancak pun pulang. Setelah berpamitan dan harapan dari TBM Maca Mancak akan datang ke Rumah dunia lagi dengan membawa suasana yang baru dari anak-anak dididiknya. Dan dari Rumah Dunia pun bila ada kesempatan waktu akan datang ke Mancak. Setalah dari TBM Maca Mancak, Rumah Dunia kedatangan keluarga dari show room motor Honda MS Kemakmuran Serang. Keluarga itu datang ke RD hanya untuk tahu dan sekaligus menikmati hari libur dengan piknik ke suatu tempat yang lain dari yang lain. Ya, Rumah Dunia.

 (Muhzen_den alumni SMK Pasundan 2 Serang, mahasiswa semester 2 Diksatrasia FKIP Untirta dan Pj. Kedai Buku Jawara)  

Posted by: muhden | June 29, 2007

PERSIAPAN ODE KAMPUNG 2 DAN BANTEN BANGKIT

“Alon-alon asal kelakon”. Istilah itu pas untuk menggambarkan suasana di Rumah Dunia. Beberapa hari ini komunitas sastra di Serang-Banten sedang sibuk melakukan persiapan   hajatan “Ode Kampung 2: Temu Komunitas Sastra Se-Nusantara”, 20 – 22 Juli 2007. Setelah Ode Kampung 1 pada Februari 2006 mendapat respon baik, kami yakin  Ode kampung 2 akan meledak. Sudah ratusan orang mendaftar lewat email panitia; odekampung2@yahoo.com.   Mereka dari Aceh, Padang, Palembang, Kalimantan, Sulawesi, Bogor, Bandung, Cirebon, Bekasi, Majalengka, Yogya, Tegal, Jember, Ngawi, Bali, dan masih banyak lagi. Kami sebagai panitia harus menjadi tuan rumah yang baik.

 BEBEGIG KECIL

Senin (25/6/7) sore, beberapa anak kecil memilin-milin jerami yang diambil dari sawah oleh relawan Rumah Dunia; Awi dan Renhard. Ada yang mengikatnya dengan kawat besi dan menggunting jerami  berbentuk boneka kecil. Mereka sedang membuat bebegig, orang-orangan sawah. Mereka senang membuat bebegig, karena itu hal terbaru yang pernah mereka lakukan.

“Pak, kayak gini?” tanya Hadi pada tutor wisata gambar Rumah Dunia, Pak Indra Kesuma, yang sedang mengawasi anak-anak yang saat itu. “Nah, begitu bagus. Coba tambah lagi jerami biar terlihat bagus bonekanya,” seru Pak Indra mengambil sedikit jerami; dia memberi contoh pada anak-anak yang ikut membantu.

Boneka-boneka bebegig itu sengaja dibuat untuk kepentingan artistik pada Ode kampung 2. Persiapan demi persiapan untuk menghadapi hari H kami lakukan. Seperti Selasa (26/6/7) kemarin, kami  melakukan rapat lagi. Wowok Hesti Prabowo, Firman Venayaksa,  Wan Anwar, Toto ST Radik, dan beberapa relawan Rumah Dunia hadir memerinci dana. Gola Gong muncul belakangan sepulang dari kantor sambil menyerahkan daftar pemasukan dana kepada Firman. “Kas Rumah Dunia Rp. 5 jt, Forum Kesenian Banten Rp. 1 jt, Kubah Budaya Untirta Rp. 300 ribu, Padhiputih Rp. 1 jt, Fahri Asiza Rp. 500 ribu, Gagas media Rp. 500 ribu,” Firman membacakan dafar itu. “Masih ada yang mau ngasih. Tinggal kita ambil. STIE Banten Rp. 500 ribu dan STIKOM Wangsa Jaya Rp. 500 ribu.”

 DISKUSI 30 JUNI 2007

Tapi bukan Rumah Dunia kalau tidak mengadakan diskusi di setiap akhir pekan. Walaupun kami sedang sibuk mempersiapkan “Ode Kampung 2”, Klab Diskusi Rumah Dunia yang dikomandani Langlang Randhawa, bekerjasama dengan Koran Jurnal Nasional, Jakarta, akan mengadakan diskusi dengan tema “Banten Bangkit”: Membentuk Generasi Cerdas, Kreatif, Kritis, Inovatif dengan Jurnalistik dan Sastra untuk Menuju Banten Nagari Rahayu Jaya Santika. Dalam diskusi itu menghadirkan pembicara Noor Syamsuddin Ch. Haesy, Pimpinan Umum Koran Jurnal Nasional. Moderator langsung oleh Firman Venayaksa selaku presiden Rumah Dunia dan dosen Untirta Serang.

Kenapa harus “Banten Bangkit”? Langlang selaku PJ Klab Diskusi menjelaskan, “Bukan hanya kebangkitan nasional saja yang harus kita dukung, tapi  kebangkitan di Banten pun harus kita peringati, agar kata kebangkitan bersifat bukan hanya merasakan saja, melainkan mengalami langsung perubahan demi perubahan untuk memajukannya.”  Langlang menyarankan, “Pelajar dan mahasiswa di Banten harus datang. Pembicaranya oke punya. Dia pernah jadi menejer program TPI, dosen di Malaysia, dan ini yang mengejutkan. Dia cucu residen pertama Banten, Achmad Chotib.”

Diskusi “Banten Bangkit” dilaksanakan pada Sabtu, 30 juni 2007, pukul 13.30 WIB, bertempat di Rumah Dunia Komplek Hegar Alam No 40, Ciloang Serang. Bagi kawan-kawan atau saudara yang peduli dan masih memiliki rasa nasionalis atau kelokalan terhadap bangsa dan daerahnya, diharapkan kehadirannya pada acara ini. Untuk duduk bersama mendiskusikan masalah kebangkitan lokal, yang kian hari kian terkikis rasa kelokalannnya. Untuk itu, mari kita bangkit. Membangun Banten cerdas dengan jurnalistik dan sastra.

(Muhzen_den, Pj. Kedai Buku Jawara dan mahasiswa Diksatrasia FKIP Untirta)

Older Posts »

Categories