Bel istirahat sekolah sudah berkumandang. Suaranya nyaring memenuhi lingkungan sekolah SMA Negeri 2 Serang. Beberapa siswa-siswi berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Mereka semua berpencar seperti laron yang sedang memburu cahaya lampu. Ada yang menuju ke kantin, perpustakaan, lapangan basket, nongkrong di bangku taman yang ada di sekolah dan yang masih betah di kelas pun ada. Salah satunya Tiara.
“Tir, gue boleh tanya gak?” ucap Mona ketika Tiara sedang merapikan buku pelajaranya yang tercecer di meja.
“Tanya apa, Mon?”
“Tanya apa ya? Oh, pelajaran tadi gue agak gak ngerti deh. Please…dong kasih tau Tiara. Elu kan’ tadi agaknya paham gitu,” pinta Mona agak mengiba.
“Ah, biasa saja Mon. Gue cuma sedikit nyambung aja, apa yang dijelaskan oleh pak guru tadi.” Tiara merendah diri dihadapan Mona teman sekelasnya ini.
Bagi Tiara, kelebihan atau kekurangan seseorang tak harus dijadikan alat untuk pamer ataupun untuk memanfaatkan orang lain. Dia sangat bersyukur sekali diberi kelebihan dalam hal berpikir, dan juga ia pun sangat senang bila ada teman-temannya bertanya tentang pelajaran atau apa pun.
“Ayo dong, Tir. Bantu gue.” Rengek Mona seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu pada ibunya.
Melihat sikap Mona yang agak kekanak-kanakkan itu. Tiara jadi serba salah. Akhirnya Tira pun dengan cepat berpikir, mempertimbangkannya. Setelah beberapa detik berpikir Tira pun mengiyakan.
“Iya deh.” Angguk Tiara dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya. Mona balas senyum tersebut dengan senyum kebahagiaan.
Tiara menjelaskan dengan seksama pelajaran yang baru saja diterangkan oleh pak guru, Mulai dari yang umum sampai yang khusus secara detail dengan versi Tiara sendiri. Sedangkan Mona begitu antusias dengan apa yang diucapkan oleh Tira. Ia kadang-kadang mengangguk, lalu tersenyum dan terdiam.
Sekitar beberapa menit lamanya, tiba-tiba di luar kelas terdengar ribut-ribut. Tiara dan Mona tidak begitu peduli. Tetapi lama-lama suara gaduh itu mengusik ketenangan dua cewek ini.
“Tir, ada apa ya? Kok, ramai banget di laur,” ujar Mona memalingkan mata ke luar pintu.
“Gak tahu.”
“Yuk, kita keluar sebentar. Gue jadi penasaran nih.”
“Terus, ini gimana?” tanya Tiara pada Mona.
“Ya, udah. Gak apa-apa. Aku sudah sedikit paham. Nanti dilanjutkan lagi.”
“Ya, udah kalau begitu.”
Kedua cewek itupun keluar dan melihat keramaian itu, yang ternyata dilapangan basket sedang ada pertandingan antar kelas. Yang bertanding saat itu adalah kelas 3 IPA B dengan kelas 2 IPS A.
Sebenarnya pertandingan itu biasa saja. Namun, yang membuat anak-anak cewek khususnya teriak-teriak adalah salah satu dari pemain tersebut ada yang lebih kinclong. Siapa lagi kalau bukan pioneeranak-anak kelas 2 IPS A. Sudah orangnya ganteng-ganteng, tajir pula. Wah, mana tahan cewek-cewek melihatnya.
“Mona, itu siapa sih.” Tiara menunjuk dengan tatapan mata bertanya, “kok, cewek-cewek sini, kayak kesambet gitu teriak-teriak gak jelas.”
“Ya…,biasalah. Siapa lagi kalau bukan Arsyam junior kita yang paling kece seantero sekolah.”
“Oh, namanya Arsyam.”
“Iya, emang elu belum tahu?”
“Buat apa. Gak rugi kan kalau gue gak begitu tahu tentang cowok ini.”
“Bukan begitu, Tir. Heran aja, sama elu. Apa elu gak merasa tertarik dengan cowok satu ini.”
“Ih, tertarik. Amit-amit deh.”
“Gue aja suka kalau ngelihatnya. Apalagi…”
“Ih, elu kenapa sih. Ganjen amat, cewek tuh, jangan terlalu lemah. Kalau dia suka. Tapi kalau gak. Gimana?”
“Ya, gak apa-apa gak diterima juga. Asalkan bisa dekat dan senyumnya itu…, oh my god!”
“Mona!” teriak Tiara melihat Mona yang keganjenan ini sambil tangannya menyubit pinggang Mona.
“Auw! Sakit.”
Lagi asyik Tiara dan Mona bercanda. Tiba-tiba sebuah benda warna merah kecoklatan berbentuk bulat mendarat ke kepala Mona.
Duk!
Mona terjatuh pingsan dan Tiara terbengong kaget bercampur kalut melihat tubuh temannya roboh. Beberapa siswa-siswi yang sedang menonton berhamburan menunju ke arah Tiara.
“Aduh, tolongin dong. Mona, Mona…” panggil Tiara.
Orang-orang mengerubungi Tiara dan Mona. Pertandingan basket ditunda karena para pemainnya juga mengerubungi korban bola nyasar. Selain Tiara yang panik juga ada salah seorang cowok yang juga ikut merasa bersalah, yaitu Arsyam.
“Aduh, teh. Kenapa ini?” tampak tubuh Arsyam bersijajar dengan Tiara, “kok, pingsan sih.”
“Mau gimana lagi,” jawab Tiara singkat.
“Mon, Mona… bangun dong.”
Beberapa kali tubuh Mona digerak-gerakkan dan Mona mulai siuman. Tapi, ketika Mona sudah siuman dan melihat didepannya ada sesosok cowok yang ia kagumi. Mona pun pingsan lagi. Tiara tambah panik. Sesekali tatapan mata Tiara bertumbukkan dengan cowok ganteng bernama Arsyam ini.
“Lalu gimana ni?” ucap Tiara pada Arsyam.
“Ya, udah teh. Kita bawa ke ruang PMR aja. Siapa tahu sembuh.”
“Ya, udah. Lekas angkat,” teriak Tiara agak kesel juga.
Dan tubuh Mona diangkat ramai-ramai oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Juga Arsyam yang merasa bersalah dengan hal ini. Tiara menghembuskan nafas panjang meringankan ketegangan urat sarafnya agar emosinya tidak naik. Ia pun langsung menuju ruang PMR membantu penyembuhan Mona ditemani Arsyam, yang tidak sengaja melempar bola ke arah penonton.
“Aduh, teh. Gue minta maaf ya…” wajah ganteng Arsyam memelas di depan Tiara. Tiara sebenarnya nggak kuat melihat tampang cowok ini, sehingga ia berpura-pura juteksambil ngomong ini-itu tak karuan agar tak terlihat lemah.
* * *
Sejak peristiwa itu, setiap kali Tiara ketemu dengan cowok yang bernama Arsyam itu. Ada sesuatu yang berbeda di rasa oleh Tiara. Arsyam tampak merasa bersalah bila hadapannya, dan Arsyam selalu tersenyum untuk Tiara. Sedang Tiara hanya cuek saja. Dalam hati, Tiara merasa heran dengan cowok seganteng Arsyam mau peduli dengannya yang anti dengan cowok macam dia.
“Tiara, Arsyam senyum kok elu diam aja. Manis tahu,” celetuk Mona menggoda.
“Elu suka. Ambil aja!”
“Ye…elu kok gitu. Emang gak tertarik dengan cowok macam Arsyam. Ganteng tau…”
Ocehan-ocehan Mona membuat telinga Tiara terasa pekak. Apalagi menyebut-nyebut nama cowok ini. Kenapa sih, cewek-cewek di sekolah mengagungkan nama Arsyam. Apa kelebihannya? Cuma ganteng doang. Nggak lebih!Kata hati Tiara.
Pertemuan-pertemuan yang diakhiri dengan senyum itupun bukan sekali dua kali terjadi. Hampir setiap ada kesempatan. Arsyam selalu tebar pesona dihadapan Tiara. Padahal Tiara sendiri tidak begitu peduli dengan senyum Arsyam. Namun, lama-lama hal itu terjadi membuat Tiara bertanya pada dirinya sendiri.
Apa iya, gue sekeras itu pada cowok. Apa iya, gue gak normal. Lalu apa artinya semua ini. Arka lagi, Arka lagi! Cowok aneh itu membuat gue muak. Tapi, ada yang aneh yang gue rasa. Apakah gue tertarik dengan Arka? Ah, gak mungkin. Gue tertarik dengan cowok ini. Gue harus fokus pada pelajaran dan gak boleh leha-leha. Gue udah janji.
“Hey, ngelamun aja!” suara Mona mengejutkan Tiara.
“Ah, elu Mon. Bikin gue jantungan aja.”
“Lagian ngelamun terus. Ngelamunin siapa sih…?”
Mona seperti biasa terus saja menggoda Tiara dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Tira enggan menjawabnya.
“Jangan-jangan, temen gue lagi jatuh…” Sebelum ucapan Mona selesai. Tiara menatap tajam ke Mona sambil teriak.
“Mona…”
Mona berlari sambil tertawa, sedangkan Tiara mengejarnya dari belakang.
* * *
Di sisi ketidaktahuan Tiara tentang gerak gerik cowok bernama Arsyam. Ternyata perasaan ini dirasakan oleh Arsyam juga. Arsyam sendiri merasa penasaran dengan cewek yang belum ia tahu dengan jelas identitasnya. Dan ia secara diam-diam mencari tahu tentang kakak kelasnya ini. Tanya sana, tanya sini. Akhirnya ketemu juga jawabannya.
“ Lani, boleh tanya gak?”
“Tentang apa? Organisasi sekolah atau pelajaran.”
“Elu kan udah kelas tiga. Ngomong-ngomong elu tahu gak dengan cewek kerudung dan berkacamata itu.”
“Yang mana maksud elu.”
“Yang orangnya agak sedikit tomboy tapi manis kalau lagi senyum.”
“Inisialnya?”
“Kalau gak salah, teman-temannya sering manggil dengan nama Tir, Tir…apa tuh?”
“Oh, maksudnya si Tiara.”
“Iya kali. Gue gak tahu persis.”
“Emang kenapa. Elu dibuat kesel sama dia?”
“Nggak. Gue cuma penasaran saja.”
“Penasaran maksud loh.”
“Maksud gue ya, cuma pengin tahu aja. Gak lebih. Tapi kalau elu tahu lebih juga gak apa-apa kasih tahu gue. Tahu gak?”
“Nggak begitu tahu. Tapi, ia anak kelas tiga paling muda di kelasnya. Coba banyangkan kelas tiga kelahiran 13 Maret 1990. Gue aja kelahiran 1988. Elu berapa?”
“Gue sama sembilan puluh.”
“Nah, elu aja kelas dua baru segitu. Apalagi ini, gimana gak muda.”
“Iya, tapi kok kelihatannya dewasa banget.”
“Ya, gitu deh. Anaknya gak jelas. Kadang lagi tertawa kelihat manis, tapi kadang lagi diam, ih serem.”
“Wah, gitu ya. Oke deh. Masalah gampang itu.” Tiba-tiba Arsyam berkata yang membuat Lani tak mengerti.
“Maksudnya apa?”
“Ya, gak apa-apa. Thank’sya informasinya.”
Arsyam mengeloyor pergi dari hadapan Lani yang terpaku diam dengan sejuta tanya.
* * *
Lama tak berpapasan lagi dengan Arsyam cowok yang membuat hati Tiara terkadang bergetar dan kadang sebel. Namun, untuk kali ini Tiara merasa ada yang hilang. Biasanya ia ketemu dengan Arsyam yang berakhir dengan senyuman. Tapi kali ini ia merasa sepi.
“Apa benar gue jatuh cinta seperti yang dikatakan Mona? Ah, lupakan, lupakan…” kata Tiara bicara pada dirinya sendiri.
Bulan Februari sudah lewat dua minggu yang lalu dan sekarang sudah menginjak bulan Maret tepatnya untuk hari ke 13 bulan ini. Ah, genap sudah usia Tiara bulan dan hari ini juga. Tapi, tak seorangpunyang mengucapkan selamat untuknya. Hari ini tampak aneh. Mona yang selalu mengekor, kini sibuk sendiri dan nggak mau ikut dengannya. Terpaksa Tiara jalan sendiri ke kantin, dan ke perpustakaan.
Ruang perpustakaan tak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang siswa saja yang ada di dalamnya. Salah satunya Tiara yang lagi duduk di bangku besar yang ada diperpustakaan. Sambil membaca sebuah novel teenlitkegemarannya. Lagi asyiknya Tiara terlena dengan dirinya sendiri tanpa ia sadari seorang cowok mendekatinya. Siapa lagi kalau bukan Arsyam?
“Teh, sendirian aja. Boleh gue temenin?”
Tiara tak memedulikan suara itu sampai Arsyam duduk berhadapan.
“Teh, namanya Tiara ya.”
Tira sedikit tersentak. Ia mendelikan mata ke arah Arsyam yang duduk di depannya.
“Hari ini ulang tahun ya, teh Tiara.”
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Tira terganggu dan kesal untuk menjawabnya.
“Jangan sok tahu deh!” Ketus Tiara membuat Arsyam terkejut tapi ia lalu tersenyum.
“Kalau boleh tahu, tanggal lahir teh Tiara atau Tiara aja deh. 13 Maret 1990 kan?”
Tiara tak langsung menjawab perkataan Arsyam. Ia hanya bisa berpikir keras tentang cowok ini, karena sudah mengetahui identitas dirinya. Meskipun hanya tanggal lahir, tapi bagi Tiari itu sesuatu yang mengherankan.
Di saat Tiara sedang diam dengan kondisinya saat itu. Arsyam mengeluarkan sebuah kado warna pinkdan menyodorkan langsung ke Tiara.
“Selamat ulang tahun ya.”
Tiara terkejut melihat cowok yang selama ini ia anggap menyebalkan. Ternyata memberi sebuah kejutan padanya. Ia tidak bisa berkata apa-apa dengan kejutan itu. Di hatinya Tiara hanya bisa bertanya-tanya bercampur rasa tak percaya.
”Hah, nggak salah nih?”
* * *
Rumah Dunia, 2/10/09
Penulis bernama pena Muhzen Den, adalah mahasiswa Diksatrasia FKIP Untirta dan relawan Rumah Dunia