WELCOME…!

Dengan Gagasan dan Pikiran Jadikan Sebagai Bentuk Kepedulian

Archive for April, 2007

JADI CEWEK IDAMAN

Posted by muhden on April 19, 2007

Judul Buku : Cewek Most Wanted (Biar Kamu Makin Dicintai 100%)

Penulis : Donatus A. Nugroho

Cetakan : November 2006

Terbitan : Penerbit Cinta

Jadi cewek super cewek. Bukan artis atau selebritis, tetapi cewek yang banyak digandrungi orang. Banyak teman, banyak cowok juga boleh. Di sayang orangtua dan jadi banggaan cewek-cewek lain. Bukan karena harta, jabatan atau tahta. Bahkan hanya karena cantik saja. Nggak juga. Yang jelek juga boleh asal nggak minder. Tapi, ini adalah jadi cewek idaman. Cewek bukan sembarang cewek yang hobinya ngerumpi, shopping, malas-malas, dan negative thinking deh, jadinya.

Mau tahu jadi cewek idaman itu bagaimana sih. Cewek yang banyak dicari orang bukan karena cewek itu cantik, dan anak orang kaya. Tetapi, cewek yang bisa buat orang-orang di sekitar tertarik. Cewek yang bisa kasih solusi, cewek yang nggak jutek tapi, tetap ramah sama yang lain. Cewek yang smart, standar juga boleh, keren, no tulalit, nggak kuper tapi tetap gaul, nggak sombong dan yang penting punya power. Itulah modal yang harus dimiliki oleh cewek. Sebab apa? Cewek selalu identik dengan lemah, lembut, sedikit-sedikit nangis, cantik sombong, nggak cantik jadi minder, dan lainnya yang berhubungan dengan cewek. Padahal, cewek harus menunjukan pada khalayak banyak bahwa cewek nggak begitu-begitu amat. Nggak percaya, coba saja tanya sama penulis buku Cewek Most Wanted (biar kamu makin dicintai 100%) ini, bapak atau kakak Donatus A. Nugroho yang juga pakar penulis cerita remaja terbaik.

Di dalam bukunya Cewek Most Wanted ini ditulis bahwa cewek harus begini-begitu. Supaya cewek nggak mudah diremehin, nggak gampang dijatuhin dan juga cewek harus berpenampilan menarik. Agar orang-orang kagum dan respect. Tunjukin bahwa kaum cewek juga bisa berpengaruh di dunia pergaulan, yang nggak mesti harus susah-susah merubah diri jadi artis atau berubah total dengan penampilan glamor. Padahal kita sebenarnya nggak begitu amat. Cukup dengan memiliki atau tahu strategi-strategi yang jitu untuk menarik perhatian orang. Mau tahu nggak nih caranya? Hanya dengan belajar-belajar dan banyak belajar. Gampang
kan?

Intinya cewek harus banyak belajar. Karena untuk jadi cewek idaman harus melakukan hal-hal yang mungkin itu penting untuk dilakukan. Seperti bersabar, optimis, positive thinking, nggak minderan, ramah, sadar diri, dan yang paling utama adalah introfeksi diri. Apa yang menjadi kelemahan dan kekurangan dari diri cewek. Supaya tidak salah tafsir mengenai cewek idaman harus seperti apa? Biasanya sesuatu yang berbau idaman harus serba sempurna. Tapi, Untuk lebih jelasnya baca buku Donatus A. Nugroho Cewek Most Wanted ( biar kamu makin dicintai 100%). Agar mudah menjadi cewek idaman. Dengan tips-tips yang ada dalam buku itu. Jadilah cewek yang banyak di disukai orang. Bukan cewek yang banyak di benci orang. Nggak percaya coba saja.***

(Muhzen_den mahasiswa Diksatrasia FKIP Untirta dan relawan Rumah Dunia)

Posted in Resensi | 12 Comments »

Teror Hantu Wanita

Posted by muhden on April 19, 2007

Judul                : Lewat Tengah Malam

Penulis             : Gola Gong & Ibnu Adam Aviciena

Cetakan            : 2007

Penerbit            : Gagasmedia

Membaca buku novel karya Gola Gong dan Ibnu Adam Aviciena saduran dari based on script by Ery Sofid. Saya merasa dikelilingi rasa penasaran. Selain dari cover bukunya yang menarik juga sub-judul buku membuat saya sebagai pembaca bertanya-tanya. Apa sih yang di maskud Lewat Tengah Malam?

Lewat Tengah Malam buku novel yang mengisahkan tentang cewek remaja Alice namanya. Cerita diawali dari sudut pandang hantu di tempat sampah yang merayap-rayap seperti  pesakitan. Berlanjut ke sebuah apartemen di mana Alice dan mamanya Tara tinggal. Alice merasakan bau yang menyengat pada malam-malam itu. Ia tak sadar kalau hantu yang di tempat sampah itu masuk ke apartemennya. Sesekali Alice merasakan keheningan yang mencekam, hingga bulu kuduknya berdiri. Alice semakin takut di saat hantu wanita itu menampakkan wujudnya. Alice tak bisa berbuat apa-apa. Ia mencoba untuk menghindar dari hantu itu, hingga ke dinding. Tapi hasilnya ia jadi terbentur dan tubuhnya melorot jatuh pingsan.

Sejak peristiwa ituAlice menjadi penakut. Ia mencoba berbagai cara untuk menghindar dari terror hantu wanita itu. Dan memberitahu pada mamanya bahwa di apartemen ada hantu. Tapi, apa hasilnya Tara menjadi naik pitam mendengar penjelasan itu. Karena ucapan Alice tentang hantu Tara anggap hanya halusinasi Alice saja yang ingin merubah suasana apartemen ini menjadi angker. Padahal kepindahan Tara ke apartemen hanya untuk mencari ketenangan. Tetapi, anaknya Alice berbicara yang mengada-ngada, sehingga konflik ibu dan anaknya pun terjadi.

Setelah itu berbagai lain peristiwa pun terjadi. Alice sering di teror sesosok hantu wanita itu, sedangkan Tara semakin curiga dengan tingkah laku Alice. Meskipun Tara mulai merasakan kegamangan di apartemennya, sehingga muncul peristiwa lainnya yang lebih tak terpikirkan lagi. Yuga mantan suami Tara ayahnya Alice tiba-tiba masuk RSJ dengan dugaan gila karena telah mencongkel matanya sendiri. Maka muncul tokoh Ramon sebagai  orang saksi dalam cerita ini. Ramon adalah teman sekolah Alice yang baik hati. Ia sempatkan waktunya untuk Alice. Mulai dari menemani sampai menampung cerita-cerita yang disampaikan oleh
Alice mengenai  hantu wanita itu. Disisi lain Melvi cemburu dengan kedekatan Ramon terhadap Alice. Ia seperti diduakan oleh Ramon. Padahal Melvi adalah pacar Ramon dan
Alice hanya teman biasa. Tapi, Ramon banyak menyempatkan waktunya untuk Alice ketimbang dengan Melvi.

Cerita mengalir dramatis dengan teror-teror yang menghantui tokoh Alice dan Tara.  Ternyata hantu wanita itu adalah Elma selingkuhan ayahnya Alice. Elma di bunuh saat menuruti kemauan Yuga untuk mengaborsi kandungan. Setelah itu mayatnya di buang ke tempat sampah. Sedangkan keajaiban di alami Alice. Alice di anggap telah mati oleh Ramon. Alice mengatahui itu lewat buku harian Ramon dan dijelaskan oleh Tara yang membunuhnya. Sehingga cerita yang sudah lewat pun diceritakan kembali. Pada waktu Tara  membunuh Alice dan membawa mayat Alice ke apartemen. Tapi keesokan hari
Alice hidup lagi. Juga pada peristiwa pembunuhan Elma wanita selingkuhan Yuga. Hingga peristiwa-peristiwa rahasia itu terkuak. Di akhir cerita buku ini Alice kembali sediakala dan
Tara menyadari kesalahannya sedang Ramon putus dari Melvi. Lalu Yuga dimana?* * *

Muhzen_den, Pj. Kedai Buku Jawara Rumah Dunia dan mahasiswa semester II Disatrasia FKIP Untirta Banten.

Posted in Resensi | 2 Comments »

Wati Waiting Romi

Posted by muhden on April 12, 2007

Hujan sore itu belum juga reda. Wati sejak tadi masih terpaku menatap keluar jendela. Tampak tetes air berjatuhan dari langit yang sesekali pecah menyentuh tanah dan membentuk genangan air yang mengalir. Wati hanya bisa diam dengan sejuta perasaan gundah, sekaligus hujan sore ini seakan meluluhkan semangatnya untuk keluar rumah.
“Wati….”
“Ya, Ma.” Jawab Wati pelan.
“Kamu, ngapain di situ?” Tanya mamanya yang diam-diam mengamati gerak-gerik Wati dari ruang tengah. “Ayo, tutup gordennya. Nggak baik, hujan-hujan berdiri di dekat jendela. Takut ada petir nyasar,” lanjutnya.
“Iya, Ma. Nanti, Wati lagi pengin lihat air hujan yang mengalir lewat saluran air itu. Sepertinya hujan kali ini akan banjir lagi.” Kata Wati beralasan. Padahal ia sedang menunggu hujan sore ini agar cepat reda. Agar cepat ketemu dengan seseorang yang membuatnya rindu.
Tak lama sekitar satu jam hujan pun reda. Meskipun masih tampak rintik-rintik kecil air berjatuhan. Tapi, itu sudah membuat Wati merasa lega. Wati seketika itu langsung mengambil tas punggungnya yang berada di bangku sofa ruang tamu. Tiba-tiba suara dering Hp-nya berbunyi.
“Ya, halo? Ada apa Rom?”
“Wati sayang.”
 “Iya, Romi.’
”Sepertinya ketemuan sore ini batal deh.”
“Kenapa? Ada yang nggak beres.”
“Iya, nih. Tiba-tiba saja mobil Romi ngadat. Nggak mau jalan, tahu tuh kenapa. Jadi, terpaksa deh, Romi bawa ke bengkel. Nggak apa-apa kan?” Terang Romi dengan suaranya yang khas membuat jantung Wati berdebar.
“O…jadi begitu. Ya, nggak apa-apa sih. Tapi, bagaimana dengan Romi. Hujan nggak di sana?” Wati balik tanya takut kenapa-napa dengan sang pujaan hati.
“Di sini hujan. Tapi, Romi nggak apa-apa. Cuma kehujanan dikit.”
“Aduh, kasiaan Romi. Dingin ya?”
“Nggak kok. Tadi sih dingin. Tapi sekarang sudah hangat. Kan dengar suara Wati…” Gombal Romi mulai. Sedang Wati hanya senyam-senyum sendiri. Mendengar ocehan Romi yang menurutnya lucu dan terkadang bikin kangen.
“Iya sudah. Hati-hati ya. Awas! Jangan sampai masuk angin. Nanti Wati jadi sedih.”
“Iya, Wati sayang. Romi akan baik-baik saja. Selama Wati masih sayang sama Romi.”
“Ah, Romi bisa saja.”
Lagi-lagi Wati hanya bisa tersenyum sipu.
“Dah dulu ya, muaaah!”
Pembicaraan celuler itupun selesai. Dari raut wajah Wati tampak bahagia. Meski, nggak jadi ketemuan sore ini. Tetapi, pembicaraan lewat Hp itu telah memudarkan rasa gundah dan sekaligus rasa curiga di hati Wati.
* * *
Sejak peristiwa sore yang dilandai hujan itu. Wati jarang ketemu dengan Romi. Ia bisa berhubungan dengan Romi hanya lewat media celuler saja. Sesekali kirim SMS, telepon hanya sebatas itu. Nggak tahu kenapa? Romi jarang muncul dan susah untuk di ajak ketemuan. Perasaan Wati jadi tak enak. Berbagai rasa bercampur jadi satu. Hingga menimbulkan rasa was-was.
Siswa-siswa berlarian, ada yang masuk kelas ada juga yang diluar sambil duduk di bangku halaman sekolah. Yang hobi nongkrong atau ngrumpi, kumpul di kantin sekolah. Maklumlah anak sekolah, waktu isitirahat begini digunakan untuk hal-hal yang macam-macam. Ya makan, baca buku diperpustakaan, main basket dilapangan dan lainnya. Sehingga perbedaan itu tampak lebih indah bila dinikmati tanpa harus merugikan orang lain.
“Eh, Mon. Kamu lihat Romi nggak?” Tanya Wati  sesampainya di kantin. 
“Nggak tuh. Emang kenapa?” Ucap Mona singkat.
“Nggak ada apa-apa. Cuma nanya doang. Siapa tahu kamu lihat.” Jawab Wati agak jutek, karena merasa kesal cari-cari Romi nggak ada yang tahu.
Mona langsung pesan makanan ke penjual kantin, sedangkan Wati hanya diam saja. Wajahnya ditekuk, tak ada rona bahagia di diri Wati. Tampak rona sedih menyelimuti. Mona sebagai teman agak tersentuh juga rasa keceweannya.
“Wati, katanya mau makan. Kok, diam saja. Ada apa sih?”
Wati masih diam. Ia hanya bisa balas dengan tatapan mata kearah Mona. Teman Wati yang paling setia bila ia sedang dalam down.
“Wat, ayo dong. Kasih tahu aku. Please…?” Mona memohon agar Wati memberitahu masalahnya.
Wati masih tak mau peduli. Ia tetap diam. Matanya berkaca-kaca sepertinya ia menahan air matanya agar tak jatuh. Tapi apa daya semua itu hanya klise. Seberat apapun masalah yang Wati sembunyikan tetapi saja. Mata tak bisa dibohongi. Padahal Wati sudah lama jadian sama Romi. Tapi, apa buktinya, ia sekarang dalam keadaan dilema cinta Romi.
“Nggak ada Mona.”
Mona hanya menatap Wati dengan pandangan curiga. Seperti ada sesuatu yang dirahasiakan Wati. Sesuatu yang sulit untuk diungkapkan.
“Boleh tanya nggak?” Mona seperti menemukan titik permasalahannya.
Wati hanya mengangguk kepala. Menandakan bawah ia mengizinkan.
“Kamu, lagi ada masalah.”
Wati hanya diam. Mona bingung harus berbuat apa. Sebab masalahnya nggak jelas.
Tiba-tiba Wati berubah, ia buru-buru menghapus air mata yang sempat menetes  dengan jarinya. Mona sempat kaget melihat perubahan Wati secara tiba-tiba.
“Mona, kok diam saja. Nggak di makan, makanannya.”
“Eh, iya Wati. Aku lupa. Kamu nggak apa-apa kan?” Mona salting deh, di tegur seperti itu. Awalnya prihatin eh jadi lelucon.
“Nggak, Mon. Aku tadi cuma lagi acting saja.”
Dung! Mona jadi serba salah menilai temannya ini. Tadi bukannya mau nangis? Gumam Mona dalam hati.
Bel sekolah berbunyi nyaring. Siswa-siswa pun mulai gusar dan mereka beranjak meninggalkan kantin sekolah. Wati dan Mona juga. Mendengar bel sekolah berarti waktu istirahat sudah habis dan sekarang dilanjutkan dengan pelajaran berikutnya. Wati dan Mona pergi meninggalkan kantin setelah membayar makanan.
* * *
Benar-benar diluar dugaan. Romi tidak diketahui batang hidungnya. Teman-teman di sekolahnya juga nggak tahu. Dimana Romi berada. Sudah seminggu ini Romi nggak masuk sekolah. Bahkan kasih kabarpun nggak. Wati jadi takut dan khawatir akan keberadaan Romi. Ia bingung harus bagaimana lagi. Wati sudah berusaha untuk mencari Romi dengan cara bertanya-tanya pada teman-temannya. Tapi, apa hasilnya nihil.
Hari demi hari terasa hambar bagi Wati. Tanpa Romi di sisi, Wati merasa hidup ini hanyalah bias. Setiap apa yang ia lakukan jadi tak berarti. Padahal sejak ada Romi di sisinya. Wati, merasa hidup ini lebih bermakna dan bersemangat. Wajahnya selalu ceriah dengan senyum yang selalu mengembang di bibirnya. Namun, untuk saat ini Wati berubah. Wajah itu tak lagi ceriah. Senyum itu tak nampak. Sehingga tampak jelas kemurungan yang ada di diri Wati.
“Wati, kamu kenapa?”
Tanpa di sangka mamanya bertanya. Mamanya khawatir melihat perubahan pada anaknya ini. Wati hanya bisa membalas dengan senyum terpaksa untuk memudarkan rasa gundah di benak mamanya. Tapi itu semua tak bisa menutupi kebohongan di matanya.
“Kamu, ada masalah nak?’ Lagi mamanya.
Wati masih diam. Ia hanya bisa menggelengkan kepala sebagai jawaban.
“Mama, lihat. Kamu murung saja, nak. Ada apa sayang?”
Wati tetap diam. Entah kenapa sikap Wati jadi misterius begini. Biasanya ia cepat tanggap kalau mamanya bertanya tentang keadaannya. Tapi, sekarang seperti ada perubahan di sikap Wati yang ramah jadi pendiam.
Tuuut, tuuut, tuut….
Dering Hp-nya berdering berulang kali. Wati jadi tersentak untuk meraihnya dan membuka isi pesan itu.
Dari: Mona
Salam, Wati. Eh, da kbr burk nih. Kmarin gw dpt bocoran dr tman skuul qtu. Ktnya si Romi sakit. Dia di opname di RSUD. Qta jenguk yuk!
Seet….
Terasa menyayat hati Wati yang terluka. Setelah ia tahu ternyata Romi….? Buru-buru ia membalas pesan itu. Takut ini hanya gosip murahan saja. Tetapi, perasaan Wati jadi nggak enak. Masa ia, Romi sakit nggak bilang-bilang sama dia. Masa Romi setega itu sih, padanya. Berbagai pertanyaaan menyelimuti hati dan pikiran Wati. Ia semakin tak percaya dengan semua ini. Ini seperti mengigau.
Tiba-tiba bunyi dering telepon rumah. Wati tambah was-was. Ia segera menuju ke suara itu. Diangkatnya telepon tersebut.
“Halo…?” suara di sana.
“Ya, halo. Dengan siapa ini?” balas Wati.
“Ini dengan mamanya Romi. Bisa bicara dengan Wati?”
”Ya, saya sendiri. Ada apa Bu?”
“Begini nak Wati. Romi sekarang…?” suara Mamanya Romi agak tersendat. Hingga suara tak terdengar penuh di telinga Wati.
“ Ada apa dengan Romi, Tante?”
Seakan berat untuk diungkapkan. Kata-kata itu seketika terhenti dari mulut mamanya Romi. Sedangkan Wati hanya bisa pasrah menunggu sebuah jawaban itu. Meskipun sebenarnya Wati tidak ingin menerima kabar itu dalam keadaan dirinya yang sedang dilemma cinta Romi.
“Romi, masuk rumah sakit.”
Terdengar jelas ditelinga Wati. Kabar itu benar-benar terjadi. Dan Wati tak bisa mengelak lagi dari kenyataan yang harus ia rasakan. Romi  kekasihnya yang beberapa hari ini tak kunjung datang untuk menemuinya. Ternyata dalam keadaan kritis.
*  *  *
Ruangan itu tampak sunyi dengan penerangan yang cukup terang. Dipintunya terpampang Ruang VIP No.23. Dengan pewangi ruang yang mungkin sudah khas yaitu bau obat. Meskipun di sana sudah tergantung pewangi ruangan yang sering ada dipasaran seperti Byfresh. Namun percuma itu tak berlaku.
Wati terduduk dalam genggaman dingin tangan Romi yang masih terkulai lemah. Hanya buraian air mata yang bisa Wati ungkapkan untuk menanyakan semua ini kepada Romi. Romi yang masih terkulai diantara hidup dan matinya. Menerima cobaan hidup dengan penyakit yang datang tak di sangka-sangka. DBD, ya singkatan kata itu menjadi momok yang banyak ditakuti orang. Romi terkena penyakit Demam Berdarah stadium kritis. Karena musim penghujan yang datang di awal Februari telah menimbukan banyak bencana. Salah satunya adala bencana banjir melanda ibu kota.
Wati masih berlinang air mata. Gengaman tangannya semakin erat. Memberi kehangatan dan doa harapan. Agar Romi lekas bangun dari pembaringannya.
*  *  *  * *
Serang, 15 Maret 2007

Penulis lahir 6 Juli 1987 di serang. Mahasiswa semester awal jurusan Diksatrasia FKIP Untitrta Banten dan aktif sebagai relawan di Rumah Dunia. Tingga di Komplek Hegar Alam No. 40, Ciloang, Serang-Banten (42118). Telp: 0254-224955/202861. No. Rek: 1160004955671 Bank Mandiri Cab. Serang.

Posted in Cerpen | 1 Comment »

Dari Diskusi Sastra, Arswendo Hingga LSM Karang Widya

Posted by muhden on April 12, 2007

Diskusi Sastra
Sabtu (07/4), siang itu begitu panas. Di pelataran Rumah Dunia tampak sepi. Roni dan Deden sedang asyik tiduran di lantai panggung utama setelah lelah membereskan seting pangggung ala kadarnya dengan menempel beberapa kertas putih yang berbentuk huruf ke layar hitam dengan tulisan “Bedah Majalah Horison” yang diyakini sebagai majalah sastra. Siang itu RD akan melaksanakan diskusi dengan pembicara Agus R Sarjono dan Wan Anwar sebagai redaktur Horison. Sayangnya, Agus R Sarjono tidak dapat hadir karena ada kesibukan mendadak.Acara diskusi yang direncanakan pukul 13.30 Wib berangsur lambat. Selain karena pembicaranya belum datang juga peserta diskusinya pun hanya ada beberapa orang saja. Tapi, bukan berarti diskusi tidak berjalan. Berapapun orangnya yang hadir pada acara siang itu diskusi tetap akan dilaksanakan. Pada  jam 14.30 Wib acara diskusi dimulai setelah pembicara dan peserta diskusi berdatangan. Diskusi bedah majalah sastra Horison dimoderatori oleh Rimba Alangalang. Wan Anwar selaku redaktur memaparkan majalah sastra Horison dan beberapa kaitannya dengan para sastrawan yang ada di belakang meja redaksi, hingga menjalar ke beberapa topik yang masih dalam konteks sastra. Meskipun peserta yang hadir pada acara diskusi itu tidak banyak, namun diskusi tersebut sangat menarik, karena beberapa peserta diskusi antusias menyimak penjelasan dari pembicara dan beberapa respon pun muncul.

Arswendo
Minggu (08/4), pukul 10 pagi Rumah Dunia kedatangan tamu istimewa dari Jakarta yaitu Arswendo Atmowiloto seorang penulis buku dan skenario, produser film juga pemilik PH, dengan membawa beberapa temannya dari PH. Pagi itu di Rumah Dunia pun sedang ramai-ramainya. Ada anak-anak yang sedang antri mendaftar untuk mengikuti lomba, acara Tralis FLP Serang dan juga beberapa relawan lain yang akan mengikuti kelas sekenario TV. Kedatangan Arswendo ke Rumah Dunia sebenarnya sudah direncanakan dan ditunggu jauh-jauh hari. Arswendo datang ke Rumah Dunia ada tujuannya yaitu meliput kegiatan yang ada di  Rumah Dunia, yang nanti hasil liputannya akan ditayangkan di stasiun TV Education. Gola Gong, Tias, Firman Venayaksa dan para relawan pun sangat senang didatangi orang macam Arswendo. Ini suatu kesempatan yang berharga bagi Rumah Dunia. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh kami. Setelah Areswendo dan beberapa temannya dari PH film meliput kegiatan yang ada pada hari itu yang menampilkan lomba-lomba yang diperuntukan buat anak-anak kecil seperti lomba gambar, baca puisi dan acting, hari itu juga diadakan acara diskusi dengan narasumber Arswendo, dan diikuti oleh para relawan, peserta kelas menulis angkatan IX dan peserta Tralis FLP Serang. Diskusi hari itu cukup hangat, bahkan Gola Gong rela menjadi moderatornya. Seperti yang diakui oleh Gola Gong, Arswendo adalah seorang guru yang tanpa pamrih mengajarkan ia menulis. Arswendo merupakan sosok yang cukup bersahaja. Dia tak hanya mau mentransfer ilmu menulis, ia juga sanggup memotivasi relawan RD untuk terus berkarya. “Saya menulis skenario sinetron ‘Mengapa Harus Inul’ dibayar 275 juta untuk satu episode. Ini motivasi buat kalian bahwa menulis itu cukup menjanjikan” ungkap penulis sinetron Keluarga Cemara ini.

LSM Karang Widya
Selasa (10/4), sore Rumah Dunia kedatangan tamu lagi. Yang ini dari LSM Karang Widya Bogor. Mereka datang ke Rumah Dunia dalam rangka penyuluhan pertanian. Intinya untuk memperkenalkan ilmu pertanian dan menawarkan workshop selama tiga bulan. Info ini ditujukan kepada pemuda-pemuda kampung atau anak-anak jalanan yang butuh perhatian. Rumah Dunia ditunjuk sebagai fasilitator untuk memberitahukan informasi itu ke orang-orang yang di maksud dari LSM Karang Widya. Sekitar 20 orang dari pemuda Ciloang datang ke Rumah Dunia dan menyimak informasi yang disampaikan. Setelah selesai menyampaikan informasi tersebut tamu dari karang Widya itu pun berpamitan. Dan keputusan orang-orang yang akan mengikuti magang diberitahukan nanti. Penyuluhan ini bukan hanya di Serang saja tapi di beberapa tempat, yang memang sangat menginginkan kesempatan itu. Jadi jangan sia-siakan kesempatan yang sudah di depan mata. Ayo pemuda Ciloang, bangkitlah!* * *

Muhzen_den, warga Ciloang,  mahasiswa semester II Diksatrasia FKIP Untirta dan Pj. Kedai Buku Jawara Rumah Dunia.

Posted in Jurnal | 1 Comment »

Sumbangan Buku, Program Baru dan Padi Memerah

Posted by muhden on April 12, 2007

Sabtu (25/11), sehari sebelum Pilgub Banten Rumah Dunia (RD) kedatangan mobil mewah warna hitam. Kami menyakangka mobil itu adalah tim sukses salah satu calgub Banten yang bakal memberi iming-iming ke RD. Karena waktu itu kami lagi hangat-hangatnya membicarakan Pilkada Banten yang penuh money politic. Tapi  setelah penumpang mobil itu membuka kaca mobilnya, kami sadar dia adalah tamu yan akan menyumbangkan buku-buku koleksinya ke RD.

Penumpang itu adalah seorang wanita setengah baya yang mengaku bernama Maria A. Murtati, asal Jakarta. Selain membawa buku Murtati yang ditemani oleh anak wanitanya bersama dua sahabatnya juga membawa bingkisan untuk-untuk anak-anak RD. Anak-anak yang sedang bermain itu terlihat gembira. Bu Murtati yang bekerja sebagai pebisnis disalah satu lembaga internasional ini merasa tertarik dengan gaya konsep RD yang mendekatkan anak pada buku. Murtati bercerita kalau anaknya yang masih sekolah dasar itu kadang susah menemukan komunitas buku. ”Lingkungan seperti ini sangat baik buat anak-anak,” ujar Murtati. Ketertarikannya itulah yang mendorong Bu Murtati menyumbangkan sebagian buku-bukunya. Sumbangan buku juga datang dari penerbit Assyamil, Bandung. Berupa tulisan-tulisan intelektual muslim asal Turki Harun Yahya. Sebelumnya, sudah hampir dua bulan ini RD dikirimi koran anak Berani. Kami tidak tahu yang menyumbang itu siapa. Tukang koran yang mengirimi ke RD bilang pokoknya ada yang membayari tanpa mengatakan nama orangnya.  

Program Baru
Kedatangan Bu Murti yang dari Jakarta ke RD menunjukan perhatian serta dukungan terhadap RD semakin bertambah, meski pun masih moril. Nah untuk itulah kami akan menggunakan dukungan itu  dengan melaksakan program-program baru yang inovatif. Semoga Firman Venayaksa orang yang diberikan amanat untuk menahkodai RD bisa melahirkan program yang inovatif. Tentu saja dibawah pengawasan Gola Gong,Tias Tatanka dan Toto St Radik sebagai penasehatnnya. Jalan itu ditempuh mengingat orang-orang RD sadar kalau kita butuh regenarasi. Firman tentu saja nanti menyerahkannya kepada generasi selanjutnya.  Nah, banyak hal yang diimpikan oleh RD yang belum terlaksana semasa dalam kendali Gola Gong. Untuk itulah pada Rabu (28/11) Firman dan dedengkot relawan seperti Aji Setiakarya, Rimba Alang-Alang, Langlang Rhandawa, Indra Kesuma, Piter Tamba, Bonang Purbaya dan saya sendiri urun rembuk membicarakan program tahun depan dengan ditemani kopi hangat dan pisang goreng. Oh, iya diantara kami juga ada Royadi dan Alwi, keduanya adalah pemuda Ciloang yang kami daulat jadi relawan baru. Tentu saja Gola Gong dan Toto St Radik hadir menemani kita.  Dengan bergabungnya putra daerah ini semoga kinerja RD semakin sukses.

Untuk kontens 2007 nanti. Program regular yang terdiri dari wisata dongeng, wisata tulis, wisata, gambar, wisata lakon yang berlangsung Senin – Jum’at tetap menjadi menu utama. Hanya harinya saja yang berganti. Wisata gambar yang awalnya Selasa berganti ke Senin. Selasa-wisata nyanyi, Rabu-wisata lakon, Kamis – wisata tulis sedangkan wisata dongeng akan berlangsung hari Jum’at. Sedangkan Sabtu dan Minggu akan tetap menjadi waktu favorit untuk digunakan dikusi dan kelas menulis pelajar, mahasiswa dan umum.

Selain kegiatan regular yang telah menjadi ikon itu. RD akan mendatangkan banyak penulis, yang dikemas dalam acara temu pengarang. Beberapa penulis yang sudah didaftar antaralain, Budi Putra (penulis teknologi), Agus Sarjono (penulis budaya),dan tentu saja banyak yang lainnya. Musikalisasi puisi dan monolog serta Ode Kampug yang ke-2 menjadi agenda RD 2007. Darimana duitnya? Nah ini dia yang terus kita pikirkan. Sampai saat ini uang dari donatur itu hanya cukup untuk membiayi operasional RD. Sementara untuk event-event kami harus menggalang dana dari yang lainnya. Atau merogoh kocek Gola Gong. ”Tetapi kita rencanakan saja. Biasanya juga rezeki muncul dengan sendirinya,” Firman meyakinkan.

Nah, program selanjutnya RD dengan TOP FM Cilegon bakal menjalin kerjasama. RD bakal mencantumkan logo TOP FM Cilegon dengan kompensasi TOP FM memberitakan event-event yang berlangsung di Rumah Dunia. Semoga kerjasama ini juga terjalin dengan komunitas lainnya.

Padi Memerah
Sebelumnya pada selasa (28/11). Shoting Padi Memerah (PM) dimulai lagi pada Rabu (29/11). Untuk mematangkan rencanan pada  Selasa (28/11), kami kru RD dan Scen 10 berkumpul. Dengan dipimpin oleh pimpinan produksi, Rimba Alang-alang rapat membahas tentang ketersediaan dana RD untuk kelanjutan PM. Rimba berharap sisa shooting yang masih  20 % itu bisa selesai selama sepekan ini. ”Ini mengingat dana yang dibutuhkan untuk PM sudah semakin tipis,” kata Rimba. Selain tentang dana dalam rapat itu juga dibahas rencana roadshow ke sekolah-sekolah yang ada di Banten. ”Paling tidak kalau Desember ini selesai, tahun depan RD bisa roadshow film indie RD,” kata Aji yang menjadi produser.  

Setelah shot film PM.  RD dan GMC akan mengadakan workshop untuk para finalis Banten Star  yang bakal shoting  film Saija dan Adinda yang akan dilaksanakan tahun depan. Workshop ini akan diadakan selama tiga hari mulai 22-24 Desember 2006. Rencananya bertempat di Rumah Dunia dengan menggunakan rumah penduduk. ”Selama workshop ini para finalis Banten Star akan digembleng dalam berteater serta diperkenalkan dengan istilah-istilag film,” ungkap Piter Tamba, wakil direktur GMC. Ini, kata Piter untuk membentuk mental dan jiwa menjadi aktor sejati. Semoga dengan workshop ini para finalis Banten Star yang akan mengikuti film Saija dan Adinda sudah terbiasa dengan keadaan dilapangan. Nah, ayo!***

Muhzen_den adalah mahasiswa Diksatrasia Untirta dan PJ. Perpustakaan Surosowan Rumah Dunia.

Posted in Jurnal | 3 Comments »