Posted by: muhden | May 2, 2007

Femina, Pelatihan, World Book Day dan TV Lokal

Femina

Di pagi yang cerah,  Minggu (22/4) jam 9.00, Rumah Dunia kedatangan tamu dari sebuah majalah wanita nasional (Femina). Dia adalah pak Heryus, editor majalah Femina. Ia datang ke Rumah Dunia untuk tugas jurnalistik. Sebelumnya, Rabu sore (19/4) Pak Heryus sudah pernah datang ke Rumah Dunia. Tapi, menurutnya kurang sreg, karena waktunya terbatas. Jadi hari Minggu itu ia luangkan waktunya untuk mendalami Rumah Dunia. “Untuk menulis yang baik tidak bisa sekilas. Harus pendalaman, makanya saya ke sini lagi. Sekalian bawa keluarga bertamasya,”ungkap lelaki yang mengaku sudah 23 tahun menjadi wartawan ini. Kedatangan Pak Heryus tentu saja disambut gembira oleh para relawan dan teman-teman FLP Serang yang setiap Minggu mengadakan Training Menulis (TRALIS) di Rumah Dunia. Bahkan Pak Heryus didaulat menjadi pembicara tamu dalam pertemuan tersebut. Selain membahas tentang dunia kepenulisan, Heryus juga membicarakan pengalamannya menjadi wartawan dan editor Femina.
Para peserta yang didominasi remaja, terlihat serius menyaksikan paparan Heryus. Setelah menjadi pembicara di Kelas Tralis, Pak Heryus juga berbagi pengalaman dengan anak-anak kelas menulis Rumah Dunia angkatan 9.

Pelatihan

Di tengah kesibukan Rumah Dunia menyiapkan untuk mengikuti World Book Day di Jakarta. Dinas Sosial (Dinsos) Kab. Serang  meminta salah seorang relawan Rumah Dunia untuk mengikuti pelatihan untuk pemberdayaan anak-anak di Lembang, Bandung, selama 10 hari.

“Ini sebagai langkah awal sebelum Dinsos mengadakan kerjasama lebih lanjut dengan Rumah Dunia,” kata Bu Farida yang menghubungi RD. Tias Tatanka, penasehat RD yang mendapatkan informasi itu langsung meneruskannya kepada relawan. “Dinsos minta satu orang. Mereka berharap Rumah Dunia bisa mengirimkan utusannya,” kata Tias. Awalnya kami sedikit ragu-ragu apalagi kerjaan di Rumah Dunia pekan ini masih numpuk. Diskusi mingguan dan persiapan untuk mengikuti World Book Day sudah menanti.

Setelah mengadakan rapat akhirnya disetujui  Langlang Rhandawa, sekretaris RD yang merangkap sebagai penanggungjawab diskusi diutus untuk mengikuti pelatihan di Lembang. Tanggung jawab acara diskusi dan surat menyurat untuk sementara diserahkan ke Muhzen, Penangggungjawab buku. Senin (23/4) pagi Langlang berangkat ke Lembang untuk memenuhi tugasnya mengikuti pelatihan. Tentu saja ini adalah langkah untuk meningkatkan sinergisitas Rumah Dunia dengan masyarakat luas.

World Book Day

Langlang berangkat ke Bandung. Relawan yang tersisa tetap menyiapkan untuk  World Book Day. Rimba tampak wara-wiri menyiapkan perlengkapan, sementara Indra Kesuma, terus mengukir-ukir sterefoam. Deden tak kalah ketinggalan sibuknya, dibantu Roy dan Awi meyiapkan buku-buku yang hendak dibawa ke Jakarta. Mang Sapit dan Aji menyiapkan bebegig yang ketinggalan diurusi.

 

“Kiray, Buku sudah siap,” kata Rimba yang ditunjuk sebagai penanggungjawab saat hendak berangkat ke acara World Book Day di Jakarta. World Book Day ini memang sedikit serius dalam soal perbukuan. Even ini diselenggarakan oleh Forum Indonesia Membaca (FIM) dibawah pimpinan Wien Muldian. Wien tak lain adalah salah satu penasehat Rumah Dunia. Selain Rumah Dunia banyak komunitas-komunitas yang peduli literasi berpameran di sini. Tempat pelaksanaanya di DEPDIKNAS, Jakarta. Acara ini akan berlangsung selama tiga hari pada 26-29 April 2007. Pada Rabu (25/4), jam 2 siang Rimba dan dua relawan lainnya Shodik dan Tohir perwakilan dari RD berangkat menuju tempat pelaksanaan. Rencananya, di sana RD akan mengisi salah satu acara yaitu pemutaran Film Multatuli yang merupakan hasil garapan teman-teman audiovisual RD.

Firman Venayaksa, sang Presiden Rumah Dunia jadwalnya akan menjadi pembicara pada diskusi Multatuli itu. Saat rapat persiapan, Firman mengatakan agar tidak main-main karena RD adalah perwakilan satu-satunya dari Banten. Apalagi keikutsertaan Rumah Dunia ini adalah untuk kedua kalinya. Tahun lalu, dimana World Book Day perdana digelar RD mendapat apresiasi yang hangat dari beberapa pengunjung. Dengan isu kampung dan kelokalannya berhasil memukau para pengunjung. Gola Gong, sang pendiri mengungkapkan moment seperti ini sangat baik untuk memperbanyak jaringan relasi dan mempromosikan budaya literasi yang sedang berkembang di Banten. Dengan slogan,  Simpan Golokmu dan Asah Penamu yang  merupakan ide Toto ST Radik semoga bisa mengubah imej Jawara yang tidak bisa lepas dari Banten.   

TV Lokal

Pena harus terus diasah. Terus. Dan salah satu untuk membuat pena tajam adalah berdiskusi. Karena itulah hampir setiap dua pekan RD selalu mengadakan diskusi. Pada akhir bulan ini, RD akan mendiskusikan soal Banten TV. “TV Lokal Untuk Siapa?” itulah tema acara diskusi untuk Sabtu (28/4) besok. Acara diskusi akan dimulai pada pukul 13.30 WIB. Dengan menghadirkan beberapa pembicara yang kompeten di bidang komunikasi dan jurnalistik seperti: Djauhari Ardiwinata (GM. Banten TV), Eneng Nurcahyati (Kabiro Humas Pemprov Banten) dan Alam Rachmis (Reporter Harian Antv). Dengan kompetensi masing-masing semoga bisa memberikan penjelasan yang menarik dari sudut pandang yang berbeda mengenai TV lokal dan manfaatnya pada masyarakat Banten. TV lokal iki dak sape? Ape manfaate? Ayo kita diskusikan bersama. Datang saja ke Rumah Dunia karena ini penting demi kemajuan Banten kelak. Aje kelingan ya, dulur-dulur.* * *

(Muhzen_den, mahasiswa semester II Diksatrasia FKIP Untirta dan Pj. Kedai Buku Jawara)


Leave a response

Your response:

Categories