DARI DERMAGA KE BATU PANTAI
Posted by muhden on January 14, 2009
DI DERMAGA PELABUHAN MERAK
Di dermaga pelabuhan Merak
Aku tambatkan semilir duka
Pada rinai buih laut yang
Mengelokkan dada
Walau warna senja
perlahan menutup
Hari di ujung bumi barat
Sampai menjelang gelap
Aku masih terpekur meniti
Waktu dari serpihan dukaku
Pada jejak kaki hampa
Dilantai beraspal dan
Deru mesin kapal Ferry
Membawaku pulang
Merak, 21/12/08
BATU-BATU PANTAI
Biarlah angin menampar
Wajahku yang kusut oleh waktu
Serta deburan ombak menenggelamkan
Aku ke ruang sunyi tanpa kata
Biarlah kerisauan
Menjadi tambatan akhir
Pencarian diriku pada dunia
Biarlah aku sendiri
Di atas batu-batu pantai
Yang membisu ditenggelamkan
Oleh waktu
Kelapatujuh, 21/12/08
MERAPATLAH WAHAI, KAPAL CINTAKU
Padahal, penantian adalah resah
Yang menjengkelkan sekaligus memudarkan
Hasrat rindu berkepanjangan
Padahal, pertemuan-pertemuan itulah
Yang diharapkan ‘kan tiba jua
Mengobati puncak gunung rindu ini
Yang beku disekam oleh waktu
Merapatlah wahai, kapal cintaku
Di sini aku menunggumu dalam
Perih siang dan luka malam
Merak, 21/12/08
BERDUA DI DERMAGA
Bagai burung aku dan kau terbang
Mengitari dunia ramai yang diguncang
Oleh persoalan hidup terlalu matang
Bagai dunia milik berdua
Aku dan kau duduk
Di bahu dermaga sambil
Melantunkan suara cita
Dan nyanyian tawa yang
Terdengar di mulut cinta
Merak, 21/12/08
BERDUAAN DI MASJID
Segala penat, letih dan lemas
Bergumul dalam bidak kepala dan raga
Mempertontonkan wajah-wajah tua
Di usia muda.
Segala sesal, sedih dan bahagia
Berpagutan dalam dinding keramik
Yang meniadakan warna-warna
Di lensa kelopak mata.
Segalanya berdua saja
Dalam tabir tak bertuan
Mencari nabi
Di bibir masjid.
Rumahku, 11/10/08
MEMINANG MAWAR
: Sikacamata
Seribu kumbang menghisap madu
Tujuh tangkai berduri gugur disemai angin
Tetesan embun memeluk daun
Namun cukup satu tangkai yang terpetik
Mawar merah hatimu.
Rumahku, 03/10/08
MALAM SAKSI KELAM
Kelam lebur warna
Menggulitakan mataku dikala tiba
Cahaya bulan tertumpuk di daun-daun
Lalu bintang tersangkut di reranting
Malam saksi kelam
Kisahku tenggelam di bawah lampu temaram.
Rumahku, 03/10/08
PENGEMBARAAN
Pendam jiwa sepi dalam riang
Menggapai harap jadi sendirian
Tanpa sepenggal kisah malam
Hanya hasrat membuncah tak tertahan
Mendaki diri dalam pengembaraan
Dibelantara kelam
UPI, 16-17/04/08
MENANTI RUMAH-RUMAH
Dari dulu sampai sekarang
Musim dan cuaca terus berganti
Di payungi deras hujan dan terik kemarau
Yang mematangkan isi dalam wajan
Dari dulu sampai sekarang
Penghuni bumi terus meramai
Menyanyikan lagu-lagu pop sedih
Jerit rock n’ roll dan tawa dangdut
Dari dulu sampai sekarang
Gedung-gedung terus berkembang
Menanamkan kebun-kebun pada dasar
Dan rumah-rumah menanti dihancurkan
Rumahku, 8/11/08
BIODATA
Penulis lahir di Serang 6 Juli 1987. Aktif di komunitas baca Rumah Dunia, UKM Belistra, Hima Prodi Diksatrasia dan masih tercatat sebagai mahasiswa semester VB Diksatrasia FKIP Untirta. Beberapa tulisannya pernah dimuat di Koran local dan nasional. Sekarang tinggal di Serang, komplek Hegar Alam No. 40, Ciloang.