WELCOME…!

Dengan Gagasan dan Pikiran Jadikan Sebagai Bentuk Kepedulian

DARI DERMAGA KE BATU PANTAI

Posted by muhden on January 14, 2009

DI DERMAGA PELABUHAN MERAK

Di dermaga pelabuhan Merak

Aku tambatkan semilir duka

Pada rinai buih laut yang

Mengelokkan dada

Walau warna senja

perlahan menutup

Hari di ujung bumi barat

Sampai menjelang gelap

Aku masih terpekur meniti

Waktu dari serpihan dukaku

Pada jejak kaki hampa

Dilantai beraspal dan

Deru mesin kapal Ferry

Membawaku pulang

Merak, 21/12/08

BATU-BATU PANTAI

Biarlah angin menampar

Wajahku yang kusut oleh waktu

Serta deburan ombak menenggelamkan

Aku ke ruang sunyi tanpa kata

Biarlah kerisauan

Menjadi tambatan akhir

Pencarian diriku pada dunia

Biarlah aku sendiri

Di atas batu-batu pantai

Yang membisu ditenggelamkan

Oleh waktu

Kelapatujuh, 21/12/08

MERAPATLAH WAHAI, KAPAL CINTAKU

Padahal, penantian adalah resah

Yang menjengkelkan sekaligus memudarkan

Hasrat rindu berkepanjangan

Padahal, pertemuan-pertemuan itulah

Yang diharapkan ‘kan tiba jua

Mengobati puncak gunung rindu ini

Yang beku disekam oleh waktu

Merapatlah wahai, kapal cintaku

Di sini aku menunggumu dalam

Perih siang dan luka malam

Merak, 21/12/08

BERDUA DI DERMAGA

Bagai burung aku dan kau terbang

Mengitari dunia ramai yang diguncang

Oleh persoalan hidup terlalu matang

Bagai dunia milik berdua

Aku dan kau duduk

Di bahu dermaga sambil

Melantunkan suara cita

Dan nyanyian tawa yang

Terdengar di mulut cinta

Merak, 21/12/08

BERDUAAN DI MASJID

Segala penat, letih dan lemas

Bergumul dalam bidak kepala dan raga

Mempertontonkan wajah-wajah tua

Di usia muda.

Segala sesal, sedih dan bahagia

Berpagutan dalam dinding keramik

Yang meniadakan warna-warna

Di lensa kelopak mata.

Segalanya berdua saja

Dalam tabir tak bertuan

Mencari nabi

Di bibir masjid.

Rumahku, 11/10/08

MEMINANG MAWAR

: Sikacamata

Seribu kumbang menghisap madu

Tujuh tangkai berduri gugur disemai angin

Tetesan embun memeluk daun

Namun cukup satu tangkai yang terpetik

Mawar merah hatimu.

Rumahku, 03/10/08


MALAM SAKSI KELAM

Kelam lebur warna

Menggulitakan mataku dikala tiba

Cahaya bulan tertumpuk di daun-daun

Lalu bintang tersangkut di reranting

Malam saksi kelam

Kisahku tenggelam di bawah lampu temaram.

Rumahku, 03/10/08

PENGEMBARAAN

Pendam jiwa sepi dalam riang

Menggapai harap jadi sendirian

Tanpa sepenggal kisah malam

Hanya hasrat membuncah tak tertahan

Mendaki diri dalam pengembaraan

Dibelantara kelam

UPI, 16-17/04/08

MENANTI RUMAH-RUMAH

Dari dulu sampai sekarang

Musim dan cuaca terus berganti

Di payungi deras hujan dan terik kemarau

Yang mematangkan isi dalam wajan

Dari dulu sampai sekarang

Penghuni bumi terus meramai

Menyanyikan lagu-lagu pop sedih

Jerit rock n’ roll dan tawa dangdut

Dari dulu sampai sekarang

Gedung-gedung terus berkembang

Menanamkan kebun-kebun pada dasar

Dan rumah-rumah menanti dihancurkan

Rumahku, 8/11/08

BIODATA

Penulis lahir di Serang 6 Juli 1987. Aktif di komunitas baca Rumah Dunia, UKM Belistra, Hima Prodi Diksatrasia dan masih tercatat sebagai mahasiswa semester VB Diksatrasia FKIP Untirta. Beberapa tulisannya pernah dimuat di Koran local dan nasional. Sekarang tinggal di Serang, komplek Hegar Alam No. 40, Ciloang.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>