WELCOME…!

Dengan Gagasan dan Pikiran Jadikan Sebagai Bentuk Kepedulian

Archive for the ‘Cerpen’ Category

KEJUTAN DARI COWOK SUPERSTAR

Posted by muhden on October 26, 2008

Bel istirahat sekolah sudah berkumandang. Suaranya nyaring memenuhi lingkungan sekolah SMA Negeri 2 Serang. Beberapa siswa-siswi berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Mereka semua berpencar seperti laron yang sedang memburu cahaya lampu. Ada yang menuju ke kantin, perpustakaan, lapangan basket, nongkrong di bangku taman yang ada di sekolah dan yang masih betah di kelas pun ada. Salah satunya Tiara.

“Tir, gue boleh tanya gak?” ucap Mona ketika Tiara sedang merapikan buku pelajaranya yang tercecer di meja.

“Tanya apa, Mon?”

“Tanya apa ya? Oh, pelajaran tadi gue agak gak ngerti deh. Please…dong kasih tau Tiara. Elu kan’ tadi agaknya paham gitu,” pinta Mona agak mengiba.

“Ah, biasa saja Mon. Gue cuma sedikit nyambung aja, apa yang dijelaskan oleh pak guru tadi.” Tiara merendah diri dihadapan Mona teman sekelasnya ini.

Bagi Tiara, kelebihan atau kekurangan seseorang tak harus dijadikan alat untuk pamer ataupun untuk memanfaatkan orang lain. Dia sangat bersyukur sekali diberi kelebihan dalam hal berpikir, dan juga ia pun sangat senang bila ada teman-temannya bertanya tentang pelajaran atau apa pun.

“Ayo dong, Tir. Bantu gue.” Rengek Mona seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu pada ibunya.

Melihat sikap Mona yang agak kekanak-kanakkan itu. Tiara jadi serba salah. Akhirnya Tira pun dengan cepat berpikir, mempertimbangkannya. Setelah beberapa detik berpikir Tira pun mengiyakan.

“Iya deh.” Angguk Tiara dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya. Mona balas senyum tersebut dengan senyum kebahagiaan.

Tiara menjelaskan dengan seksama pelajaran yang baru saja diterangkan oleh pak guru, Mulai dari yang umum sampai yang khusus secara detail dengan versi Tiara sendiri. Sedangkan Mona begitu antusias dengan apa yang diucapkan oleh Tira. Ia kadang-kadang mengangguk, lalu tersenyum dan terdiam.

Sekitar beberapa menit lamanya, tiba-tiba di luar kelas terdengar ribut-ribut. Tiara dan Mona tidak begitu peduli. Tetapi lama-lama suara gaduh itu mengusik ketenangan dua cewek ini.

“Tir, ada apa ya? Kok, ramai banget di laur,” ujar Mona memalingkan mata ke luar pintu.

“Gak tahu.”

“Yuk, kita keluar sebentar. Gue jadi penasaran nih.”

“Terus, ini gimana?” tanya Tiara pada Mona.

“Ya, udah. Gak apa-apa. Aku sudah sedikit paham. Nanti dilanjutkan lagi.”

“Ya, udah kalau begitu.”

Kedua cewek itupun keluar dan melihat keramaian itu, yang ternyata dilapangan basket sedang ada pertandingan antar kelas. Yang bertanding saat itu adalah kelas 3 IPA B dengan kelas 2 IPS A.

Sebenarnya pertandingan itu biasa saja. Namun, yang membuat anak-anak cewek khususnya teriak-teriak adalah salah satu dari pemain tersebut ada yang lebih kinclong. Siapa lagi kalau bukan pioneeranak-anak kelas 2 IPS A. Sudah orangnya ganteng-ganteng, tajir pula. Wah, mana tahan cewek-cewek melihatnya.

“Mona, itu siapa sih.” Tiara menunjuk dengan tatapan mata bertanya, “kok, cewek-cewek sini, kayak kesambet gitu teriak-teriak gak jelas.”

“Ya…,biasalah. Siapa lagi kalau bukan Arsyam junior kita yang paling kece seantero sekolah.”

“Oh, namanya Arsyam.”

“Iya, emang elu belum tahu?”

“Buat apa. Gak rugi kan kalau gue gak begitu tahu tentang cowok ini.”

“Bukan begitu, Tir. Heran aja, sama elu. Apa elu gak merasa tertarik dengan cowok satu ini.”

“Ih, tertarik. Amit-amit deh.”

“Gue aja suka kalau ngelihatnya. Apalagi…”

“Ih, elu kenapa sih. Ganjen amat,  cewek tuh, jangan terlalu lemah. Kalau dia suka. Tapi kalau gak. Gimana?”

“Ya, gak apa-apa gak diterima juga. Asalkan bisa dekat dan senyumnya itu…, oh my god!”

“Mona!” teriak Tiara melihat Mona yang keganjenan ini sambil tangannya menyubit pinggang Mona.

“Auw! Sakit.”

Lagi asyik Tiara dan Mona bercanda. Tiba-tiba sebuah benda warna merah kecoklatan berbentuk bulat mendarat ke kepala Mona.

Duk!

Mona terjatuh pingsan dan Tiara terbengong kaget bercampur kalut melihat tubuh temannya roboh. Beberapa siswa-siswi yang sedang menonton berhamburan menunju ke arah Tiara.

“Aduh, tolongin dong. Mona, Mona…” panggil Tiara.

Orang-orang mengerubungi Tiara dan Mona. Pertandingan basket ditunda karena para pemainnya juga mengerubungi korban bola nyasar. Selain Tiara yang panik juga ada salah seorang cowok yang juga ikut merasa bersalah, yaitu Arsyam.

“Aduh, teh. Kenapa ini?” tampak tubuh Arsyam bersijajar dengan Tiara, “kok, pingsan sih.”

“Mau gimana lagi,” jawab Tiara singkat.

“Mon, Mona… bangun dong.”

Beberapa kali tubuh Mona digerak-gerakkan dan Mona mulai siuman. Tapi, ketika Mona sudah siuman dan melihat didepannya ada sesosok cowok yang ia kagumi. Mona pun pingsan lagi. Tiara tambah panik. Sesekali tatapan mata Tiara bertumbukkan dengan cowok ganteng bernama Arsyam ini.

“Lalu gimana ni?” ucap Tiara pada Arsyam.

“Ya, udah teh. Kita bawa ke ruang PMR aja. Siapa tahu sembuh.”

“Ya, udah. Lekas angkat,” teriak Tiara agak kesel juga.

Dan tubuh Mona diangkat ramai-ramai oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Juga Arsyam yang merasa bersalah dengan hal ini. Tiara menghembuskan nafas panjang meringankan ketegangan urat sarafnya agar emosinya tidak naik. Ia pun langsung menuju ruang PMR membantu penyembuhan Mona ditemani Arsyam, yang tidak sengaja melempar bola ke arah penonton.

“Aduh, teh. Gue minta maaf ya…” wajah ganteng Arsyam memelas di depan Tiara. Tiara sebenarnya nggak kuat melihat tampang cowok ini, sehingga ia berpura-pura juteksambil ngomong ini-itu tak karuan agar tak terlihat lemah.

* * *

Sejak peristiwa itu, setiap kali Tiara ketemu dengan cowok yang bernama Arsyam itu. Ada sesuatu yang berbeda di rasa oleh Tiara. Arsyam tampak merasa bersalah bila hadapannya, dan Arsyam selalu tersenyum untuk Tiara. Sedang Tiara hanya cuek saja. Dalam hati, Tiara merasa heran dengan cowok seganteng Arsyam mau peduli dengannya yang anti dengan cowok macam dia.

“Tiara, Arsyam senyum kok elu diam aja. Manis tahu,” celetuk Mona menggoda.

“Elu suka. Ambil aja!”

“Ye…elu kok gitu. Emang gak tertarik dengan cowok macam Arsyam. Ganteng tau…”

Ocehan-ocehan Mona membuat telinga Tiara terasa pekak. Apalagi menyebut-nyebut nama cowok ini. Kenapa sih, cewek-cewek di sekolah mengagungkan nama Arsyam. Apa kelebihannya? Cuma ganteng doang. Nggak lebih!Kata hati Tiara.

Pertemuan-pertemuan yang diakhiri dengan senyum itupun bukan sekali dua kali terjadi. Hampir setiap ada kesempatan. Arsyam selalu tebar pesona dihadapan Tiara. Padahal Tiara sendiri tidak begitu peduli dengan senyum Arsyam. Namun, lama-lama hal itu terjadi membuat Tiara bertanya pada dirinya sendiri.

Apa iya, gue sekeras itu pada cowok. Apa iya, gue gak normal. Lalu apa artinya semua ini. Arka lagi, Arka lagi! Cowok aneh itu membuat gue muak. Tapi, ada yang aneh yang gue rasa. Apakah gue tertarik dengan Arka? Ah, gak mungkin. Gue tertarik dengan cowok ini. Gue harus fokus pada pelajaran dan gak boleh leha-leha. Gue udah janji.

“Hey, ngelamun aja!” suara Mona mengejutkan Tiara.

“Ah, elu Mon. Bikin gue jantungan aja.”

“Lagian ngelamun terus. Ngelamunin siapa sih…?”

Mona seperti biasa terus saja menggoda Tiara dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Tira enggan menjawabnya.

“Jangan-jangan, temen gue lagi jatuh…” Sebelum ucapan Mona selesai. Tiara menatap tajam ke Mona sambil teriak.

“Mona…”

Mona berlari sambil tertawa, sedangkan Tiara mengejarnya dari belakang.

 * * *

Di sisi ketidaktahuan Tiara tentang gerak gerik cowok bernama Arsyam. Ternyata perasaan ini dirasakan oleh Arsyam juga. Arsyam sendiri merasa penasaran dengan cewek yang belum ia tahu dengan jelas identitasnya. Dan ia secara diam-diam mencari tahu tentang kakak kelasnya ini. Tanya sana, tanya sini. Akhirnya ketemu juga jawabannya.

“ Lani, boleh tanya gak?”

“Tentang apa? Organisasi sekolah atau pelajaran.”

“Elu kan udah kelas tiga. Ngomong-ngomong elu tahu gak dengan cewek kerudung dan berkacamata itu.”

“Yang mana maksud elu.”

“Yang orangnya agak sedikit tomboy tapi manis kalau lagi senyum.”

“Inisialnya?”

“Kalau gak salah, teman-temannya sering manggil dengan nama Tir, Tir…apa tuh?”

“Oh, maksudnya si Tiara.”

“Iya kali. Gue gak tahu persis.”

“Emang kenapa. Elu dibuat kesel sama dia?”

“Nggak. Gue cuma penasaran saja.”

“Penasaran maksud loh.”

“Maksud gue ya, cuma pengin tahu aja. Gak lebih. Tapi kalau elu tahu lebih juga gak apa-apa kasih tahu gue. Tahu gak?”

“Nggak begitu tahu. Tapi, ia anak kelas tiga paling muda di kelasnya. Coba banyangkan kelas tiga kelahiran 13 Maret 1990. Gue aja kelahiran 1988. Elu berapa?”

“Gue  sama sembilan puluh.”

“Nah, elu aja kelas dua baru segitu. Apalagi ini, gimana gak muda.”

“Iya, tapi kok kelihatannya dewasa banget.”

“Ya, gitu deh. Anaknya gak jelas. Kadang lagi tertawa kelihat manis, tapi kadang lagi diam, ih serem.”

“Wah, gitu ya. Oke deh. Masalah gampang itu.” Tiba-tiba Arsyam berkata yang membuat Lani tak mengerti.

“Maksudnya apa?”

“Ya, gak apa-apa. Thank’sya informasinya.”

Arsyam mengeloyor pergi dari hadapan Lani yang terpaku diam dengan sejuta tanya.

* * *

Lama tak berpapasan lagi dengan Arsyam cowok yang membuat hati Tiara terkadang bergetar dan kadang sebel. Namun, untuk kali ini Tiara merasa ada yang hilang. Biasanya ia ketemu dengan Arsyam yang berakhir dengan senyuman. Tapi kali ini ia merasa sepi.

“Apa benar gue jatuh cinta seperti yang dikatakan Mona? Ah, lupakan, lupakan…” kata Tiara bicara pada dirinya sendiri.

Bulan Februari sudah lewat dua minggu yang lalu dan sekarang sudah menginjak bulan Maret tepatnya untuk hari ke 13 bulan ini. Ah, genap sudah usia Tiara bulan dan hari ini juga. Tapi, tak seorangpunyang mengucapkan selamat untuknya. Hari ini tampak aneh. Mona yang selalu mengekor, kini sibuk sendiri dan nggak mau ikut dengannya. Terpaksa Tiara jalan sendiri ke kantin, dan ke perpustakaan.

Ruang perpustakaan tak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang siswa saja yang ada di dalamnya. Salah satunya Tiara yang lagi duduk di bangku besar yang ada diperpustakaan. Sambil membaca sebuah novel teenlitkegemarannya. Lagi asyiknya Tiara terlena dengan dirinya sendiri tanpa ia sadari seorang cowok mendekatinya. Siapa lagi kalau bukan Arsyam?

“Teh, sendirian aja. Boleh gue temenin?”

Tiara tak memedulikan suara itu sampai Arsyam duduk berhadapan.

“Teh, namanya Tiara ya.”

Tira sedikit tersentak. Ia mendelikan mata ke arah Arsyam yang duduk di depannya.

“Hari ini ulang tahun ya, teh Tiara.”

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Tira terganggu dan  kesal untuk menjawabnya.

“Jangan sok tahu deh!” Ketus Tiara membuat Arsyam terkejut tapi ia lalu tersenyum.

“Kalau boleh tahu, tanggal lahir teh Tiara atau Tiara aja deh. 13 Maret 1990 kan?”

Tiara tak langsung menjawab perkataan Arsyam. Ia hanya bisa berpikir keras tentang cowok ini, karena sudah mengetahui identitas dirinya. Meskipun hanya tanggal lahir, tapi bagi Tiari itu sesuatu yang mengherankan.

Di saat Tiara sedang diam dengan kondisinya saat itu. Arsyam mengeluarkan sebuah kado warna pinkdan menyodorkan langsung ke Tiara.

“Selamat ulang tahun ya.”

Tiara terkejut melihat cowok yang selama ini ia anggap menyebalkan. Ternyata memberi sebuah kejutan padanya. Ia tidak bisa berkata apa-apa dengan kejutan itu. Di hatinya Tiara hanya bisa bertanya-tanya bercampur rasa tak percaya.

”Hah, nggak salah nih?”

* * *

Rumah Dunia, 2/10/09

Penulis bernama pena Muhzen Den, adalah mahasiswa Diksatrasia FKIP Untirta dan relawan Rumah Dunia

Posted in Cerpen | Leave a Comment »

Wati Waiting Romi

Posted by muhden on April 12, 2007

Hujan sore itu belum juga reda. Wati sejak tadi masih terpaku menatap keluar jendela. Tampak tetes air berjatuhan dari langit yang sesekali pecah menyentuh tanah dan membentuk genangan air yang mengalir. Wati hanya bisa diam dengan sejuta perasaan gundah, sekaligus hujan sore ini seakan meluluhkan semangatnya untuk keluar rumah.
“Wati….”
“Ya, Ma.” Jawab Wati pelan.
“Kamu, ngapain di situ?” Tanya mamanya yang diam-diam mengamati gerak-gerik Wati dari ruang tengah. “Ayo, tutup gordennya. Nggak baik, hujan-hujan berdiri di dekat jendela. Takut ada petir nyasar,” lanjutnya.
“Iya, Ma. Nanti, Wati lagi pengin lihat air hujan yang mengalir lewat saluran air itu. Sepertinya hujan kali ini akan banjir lagi.” Kata Wati beralasan. Padahal ia sedang menunggu hujan sore ini agar cepat reda. Agar cepat ketemu dengan seseorang yang membuatnya rindu.
Tak lama sekitar satu jam hujan pun reda. Meskipun masih tampak rintik-rintik kecil air berjatuhan. Tapi, itu sudah membuat Wati merasa lega. Wati seketika itu langsung mengambil tas punggungnya yang berada di bangku sofa ruang tamu. Tiba-tiba suara dering Hp-nya berbunyi.
“Ya, halo? Ada apa Rom?”
“Wati sayang.”
 “Iya, Romi.’
”Sepertinya ketemuan sore ini batal deh.”
“Kenapa? Ada yang nggak beres.”
“Iya, nih. Tiba-tiba saja mobil Romi ngadat. Nggak mau jalan, tahu tuh kenapa. Jadi, terpaksa deh, Romi bawa ke bengkel. Nggak apa-apa kan?” Terang Romi dengan suaranya yang khas membuat jantung Wati berdebar.
“O…jadi begitu. Ya, nggak apa-apa sih. Tapi, bagaimana dengan Romi. Hujan nggak di sana?” Wati balik tanya takut kenapa-napa dengan sang pujaan hati.
“Di sini hujan. Tapi, Romi nggak apa-apa. Cuma kehujanan dikit.”
“Aduh, kasiaan Romi. Dingin ya?”
“Nggak kok. Tadi sih dingin. Tapi sekarang sudah hangat. Kan dengar suara Wati…” Gombal Romi mulai. Sedang Wati hanya senyam-senyum sendiri. Mendengar ocehan Romi yang menurutnya lucu dan terkadang bikin kangen.
“Iya sudah. Hati-hati ya. Awas! Jangan sampai masuk angin. Nanti Wati jadi sedih.”
“Iya, Wati sayang. Romi akan baik-baik saja. Selama Wati masih sayang sama Romi.”
“Ah, Romi bisa saja.”
Lagi-lagi Wati hanya bisa tersenyum sipu.
“Dah dulu ya, muaaah!”
Pembicaraan celuler itupun selesai. Dari raut wajah Wati tampak bahagia. Meski, nggak jadi ketemuan sore ini. Tetapi, pembicaraan lewat Hp itu telah memudarkan rasa gundah dan sekaligus rasa curiga di hati Wati.
* * *
Sejak peristiwa sore yang dilandai hujan itu. Wati jarang ketemu dengan Romi. Ia bisa berhubungan dengan Romi hanya lewat media celuler saja. Sesekali kirim SMS, telepon hanya sebatas itu. Nggak tahu kenapa? Romi jarang muncul dan susah untuk di ajak ketemuan. Perasaan Wati jadi tak enak. Berbagai rasa bercampur jadi satu. Hingga menimbulkan rasa was-was.
Siswa-siswa berlarian, ada yang masuk kelas ada juga yang diluar sambil duduk di bangku halaman sekolah. Yang hobi nongkrong atau ngrumpi, kumpul di kantin sekolah. Maklumlah anak sekolah, waktu isitirahat begini digunakan untuk hal-hal yang macam-macam. Ya makan, baca buku diperpustakaan, main basket dilapangan dan lainnya. Sehingga perbedaan itu tampak lebih indah bila dinikmati tanpa harus merugikan orang lain.
“Eh, Mon. Kamu lihat Romi nggak?” Tanya Wati  sesampainya di kantin. 
“Nggak tuh. Emang kenapa?” Ucap Mona singkat.
“Nggak ada apa-apa. Cuma nanya doang. Siapa tahu kamu lihat.” Jawab Wati agak jutek, karena merasa kesal cari-cari Romi nggak ada yang tahu.
Mona langsung pesan makanan ke penjual kantin, sedangkan Wati hanya diam saja. Wajahnya ditekuk, tak ada rona bahagia di diri Wati. Tampak rona sedih menyelimuti. Mona sebagai teman agak tersentuh juga rasa keceweannya.
“Wati, katanya mau makan. Kok, diam saja. Ada apa sih?”
Wati masih diam. Ia hanya bisa balas dengan tatapan mata kearah Mona. Teman Wati yang paling setia bila ia sedang dalam down.
“Wat, ayo dong. Kasih tahu aku. Please…?” Mona memohon agar Wati memberitahu masalahnya.
Wati masih tak mau peduli. Ia tetap diam. Matanya berkaca-kaca sepertinya ia menahan air matanya agar tak jatuh. Tapi apa daya semua itu hanya klise. Seberat apapun masalah yang Wati sembunyikan tetapi saja. Mata tak bisa dibohongi. Padahal Wati sudah lama jadian sama Romi. Tapi, apa buktinya, ia sekarang dalam keadaan dilema cinta Romi.
“Nggak ada Mona.”
Mona hanya menatap Wati dengan pandangan curiga. Seperti ada sesuatu yang dirahasiakan Wati. Sesuatu yang sulit untuk diungkapkan.
“Boleh tanya nggak?” Mona seperti menemukan titik permasalahannya.
Wati hanya mengangguk kepala. Menandakan bawah ia mengizinkan.
“Kamu, lagi ada masalah.”
Wati hanya diam. Mona bingung harus berbuat apa. Sebab masalahnya nggak jelas.
Tiba-tiba Wati berubah, ia buru-buru menghapus air mata yang sempat menetes  dengan jarinya. Mona sempat kaget melihat perubahan Wati secara tiba-tiba.
“Mona, kok diam saja. Nggak di makan, makanannya.”
“Eh, iya Wati. Aku lupa. Kamu nggak apa-apa kan?” Mona salting deh, di tegur seperti itu. Awalnya prihatin eh jadi lelucon.
“Nggak, Mon. Aku tadi cuma lagi acting saja.”
Dung! Mona jadi serba salah menilai temannya ini. Tadi bukannya mau nangis? Gumam Mona dalam hati.
Bel sekolah berbunyi nyaring. Siswa-siswa pun mulai gusar dan mereka beranjak meninggalkan kantin sekolah. Wati dan Mona juga. Mendengar bel sekolah berarti waktu istirahat sudah habis dan sekarang dilanjutkan dengan pelajaran berikutnya. Wati dan Mona pergi meninggalkan kantin setelah membayar makanan.
* * *
Benar-benar diluar dugaan. Romi tidak diketahui batang hidungnya. Teman-teman di sekolahnya juga nggak tahu. Dimana Romi berada. Sudah seminggu ini Romi nggak masuk sekolah. Bahkan kasih kabarpun nggak. Wati jadi takut dan khawatir akan keberadaan Romi. Ia bingung harus bagaimana lagi. Wati sudah berusaha untuk mencari Romi dengan cara bertanya-tanya pada teman-temannya. Tapi, apa hasilnya nihil.
Hari demi hari terasa hambar bagi Wati. Tanpa Romi di sisi, Wati merasa hidup ini hanyalah bias. Setiap apa yang ia lakukan jadi tak berarti. Padahal sejak ada Romi di sisinya. Wati, merasa hidup ini lebih bermakna dan bersemangat. Wajahnya selalu ceriah dengan senyum yang selalu mengembang di bibirnya. Namun, untuk saat ini Wati berubah. Wajah itu tak lagi ceriah. Senyum itu tak nampak. Sehingga tampak jelas kemurungan yang ada di diri Wati.
“Wati, kamu kenapa?”
Tanpa di sangka mamanya bertanya. Mamanya khawatir melihat perubahan pada anaknya ini. Wati hanya bisa membalas dengan senyum terpaksa untuk memudarkan rasa gundah di benak mamanya. Tapi itu semua tak bisa menutupi kebohongan di matanya.
“Kamu, ada masalah nak?’ Lagi mamanya.
Wati masih diam. Ia hanya bisa menggelengkan kepala sebagai jawaban.
“Mama, lihat. Kamu murung saja, nak. Ada apa sayang?”
Wati tetap diam. Entah kenapa sikap Wati jadi misterius begini. Biasanya ia cepat tanggap kalau mamanya bertanya tentang keadaannya. Tapi, sekarang seperti ada perubahan di sikap Wati yang ramah jadi pendiam.
Tuuut, tuuut, tuut….
Dering Hp-nya berdering berulang kali. Wati jadi tersentak untuk meraihnya dan membuka isi pesan itu.
Dari: Mona
Salam, Wati. Eh, da kbr burk nih. Kmarin gw dpt bocoran dr tman skuul qtu. Ktnya si Romi sakit. Dia di opname di RSUD. Qta jenguk yuk!
Seet….
Terasa menyayat hati Wati yang terluka. Setelah ia tahu ternyata Romi….? Buru-buru ia membalas pesan itu. Takut ini hanya gosip murahan saja. Tetapi, perasaan Wati jadi nggak enak. Masa ia, Romi sakit nggak bilang-bilang sama dia. Masa Romi setega itu sih, padanya. Berbagai pertanyaaan menyelimuti hati dan pikiran Wati. Ia semakin tak percaya dengan semua ini. Ini seperti mengigau.
Tiba-tiba bunyi dering telepon rumah. Wati tambah was-was. Ia segera menuju ke suara itu. Diangkatnya telepon tersebut.
“Halo…?” suara di sana.
“Ya, halo. Dengan siapa ini?” balas Wati.
“Ini dengan mamanya Romi. Bisa bicara dengan Wati?”
”Ya, saya sendiri. Ada apa Bu?”
“Begini nak Wati. Romi sekarang…?” suara Mamanya Romi agak tersendat. Hingga suara tak terdengar penuh di telinga Wati.
“ Ada apa dengan Romi, Tante?”
Seakan berat untuk diungkapkan. Kata-kata itu seketika terhenti dari mulut mamanya Romi. Sedangkan Wati hanya bisa pasrah menunggu sebuah jawaban itu. Meskipun sebenarnya Wati tidak ingin menerima kabar itu dalam keadaan dirinya yang sedang dilemma cinta Romi.
“Romi, masuk rumah sakit.”
Terdengar jelas ditelinga Wati. Kabar itu benar-benar terjadi. Dan Wati tak bisa mengelak lagi dari kenyataan yang harus ia rasakan. Romi  kekasihnya yang beberapa hari ini tak kunjung datang untuk menemuinya. Ternyata dalam keadaan kritis.
*  *  *
Ruangan itu tampak sunyi dengan penerangan yang cukup terang. Dipintunya terpampang Ruang VIP No.23. Dengan pewangi ruang yang mungkin sudah khas yaitu bau obat. Meskipun di sana sudah tergantung pewangi ruangan yang sering ada dipasaran seperti Byfresh. Namun percuma itu tak berlaku.
Wati terduduk dalam genggaman dingin tangan Romi yang masih terkulai lemah. Hanya buraian air mata yang bisa Wati ungkapkan untuk menanyakan semua ini kepada Romi. Romi yang masih terkulai diantara hidup dan matinya. Menerima cobaan hidup dengan penyakit yang datang tak di sangka-sangka. DBD, ya singkatan kata itu menjadi momok yang banyak ditakuti orang. Romi terkena penyakit Demam Berdarah stadium kritis. Karena musim penghujan yang datang di awal Februari telah menimbukan banyak bencana. Salah satunya adala bencana banjir melanda ibu kota.
Wati masih berlinang air mata. Gengaman tangannya semakin erat. Memberi kehangatan dan doa harapan. Agar Romi lekas bangun dari pembaringannya.
*  *  *  * *
Serang, 15 Maret 2007

Penulis lahir 6 Juli 1987 di serang. Mahasiswa semester awal jurusan Diksatrasia FKIP Untitrta Banten dan aktif sebagai relawan di Rumah Dunia. Tingga di Komplek Hegar Alam No. 40, Ciloang, Serang-Banten (42118). Telp: 0254-224955/202861. No. Rek: 1160004955671 Bank Mandiri Cab. Serang.

Posted in Cerpen | 1 Comment »