WELCOME…!

Dengan Gagasan dan Pikiran Jadikan Sebagai Bentuk Kepedulian

Archive for the ‘Jurnal’ Category

SHADIK YANG TAK BERSEPDA LAGI

Posted by muhden on June 29, 2007

“Allah tidak akan merubah nasib sebuah kaum sebelum kaum itu sendiri  yang berusaha merubahnya”( Al-quran). 

Penggalan kalimat sakti di atas menyatakan bahwa: seseorang akan berubah nasibnya apabila orang itu berusaha merubahnya atau sebaliknya. Seseorang akan berbuat nekad mengambil keputusan apabila ia telah mengatahui hambatan dan ujian yang akan dihadapi. 

Akhir Desember 2006 lalu, tepatnya malam menjelang hari raya Idul Adha 1427 Hijriyah, Rumah Dunia kedatangan seorang laki-laki yang aneh dan nekad dari Tangerang ke Serang menggunakan sepeda keranjang. Seseorang itu bernama Shadik. Dia lelaki kelahiran Jawa Tengah yang tinggal di Tangerang. Ia keukeuh sekali untuk tahu Rumah Dunia dan ingin ikut kelas menulis Rumah Dunia. Kami saat itu hanya bisa berdecak kagum dengan pengorbanan Shadik. Ternyata masih ada juga orang seperti Shadik di zaman seperti ini. Hanya untuk mencari ilmu, ia jauh-jauh datang ke Rumah Dunia dengan kendaraan tak berpolusi itu. Luar biasa! 

Sesosok lelaki aneh dan nekad itu kini tak bersepeda lagi. Ia sudah meninggalkan sepedanya setelah menyatakan menerima tawaran jadi relawan Rumah Dunia. Bahkan Shadik juga mengambil keputusan yang tak di sangka-sangka. Ada konsekuensi terhadap setiap keputusan. Kini ia rela kehilangan pekerjaannya sebagai pengantar roti hanya untuk menjadi relawan di Rumah Dunia. Yang ini lebih nekad lagi. Benar-benar orang aneh! 

Pada Kamis (10/5) siang, Shadik datang ke Rumah Dunia dengan membawa bekal sedikit baju dan buku-buku. Saat itu ia siap menjadi relawan di Rumah Dunia. Siap berjungkir-balik, tertatih, lintang-pukang, untuk menempa diri di kawah candradimuka bernama Rumah Dunia. Setelah melewati tenggang waktu selama satu bulan, kami berikan kesempatan kepada Shadik untuk memikirkan kembali resiko-resiko yang akan terjadi ketika sudah siap tempur di Rumah Dunia. Bahwa menjadi relawan itu tidak gampang dan butuh pengorbanan. ”Di sini kami tidak semata luka fisik, tetapi psikis juga!” ujar Firman Venayaksa, selaku presiden Rumah Dunia sambil terkekeh saat memba’iat Shadik sebegai relawan. Yah, di Rumah Dunia akan banyak kegiatan yang menguras energi fisik. Selain itu, benturan-benturan ide dan gagasan tak jarang melukai psikis. Apalagi Shadik adalah remaja perantauan yang singgah ke Tangerang hanya untuk mencari kerja walaupun sebagai tukang roti. Tapi, melihat semangatnya yang begitu besar kami yakin adalah orang-orang pilihan yang sudah berjodoh dengan Rumah Dunia. Ia lebih memilih mengabdi untuk orang lain ketimbang dirinya sendiri. Namun, kami dari Rumah Dunia juga akan menjamin Shadik menjadi Shadik yang benar-benar Shadik, dengan apapun caranya. Menjadi relawan yang kental dengan sebutan pelayan bukanlah sesuatu yang buruk. Melainkan sesuatu yang mulia di mata Allah khususnya dan umumnya di mata masyarakat.Derajat relawan kalau dipahami secara lurus dan sadar sama dengan dewan di DPR: Pelayan masyarakat! Lalu bukankah kita layak untuk berbangga diri? 

Kunjungan

Minggu (13/5) pagi, kesibukan Shadik sebagai relawan baru Rumah Dunia sudah dimulai. Sejak pagi tiba ia sudah tekun menyapu halaman Rumah Dunia dibantu relawan lain yang sudah lama menetap di Rumah Dunia. Salah satu kegiatan biasa disaat hari libur datang, yaitu gotong royong. Kebetulan pagi itu juga Rumah Dunia akan kedatangan tamu dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Maca Mancak.  

Sebelumnya, Sabtu (12/5) sore, Rumah Dunia juga kedatangan dua orang  tamu dari Depok. Mereka adalah Mas Erwin dan Mahat. Tujuan mereka hanya untuk lebih tahu tentang Rumah Dunia. Karena sebelumnya Mas Erwin dan Mahat ini pernah membuat sanggar tapi tak bertahan lama. Jadi dengan datang ke Rumah Dunia semoga saja mereka dapat membangun kembali sanggarnya yang baru dengan konsep baru juga. Tahan lama juga. 

Jam 9.00 di pelataran Rumah Dunia sudah ramai oleh peserta Tralis FLP Serang dan kelas sekenario yang biasa diadakan tiap seminggu sekali. Tapi, tamu yang di tunggu-tunggu itu belum juga datang. Sampai menginjak siang hari dan sedikit turun hujan.  Akhirnya tamu dari TBM Maca Mancak itu pun datang tepatnya jam 12.30, dengan membawa 40 orang anak beserta mentor-mentornya. Kedatangan mereka disambut banyak orang yang ada di Rumah Dunia. Tujuan dari mereka tak lain kujungan biasa sekaligus perkenalan bahwa di Kecamatan Mancak Kp. Blokang telah berdiri sebuah komunitas taman baca masyarakat yang bernama Maca Mancak semenjak 2004. TBM tersebut diketuai oleh Masrori dan kawan-kawan. Intinya hampir sama dengan visi-misi Rumah Dunia. Yaitu mencerdaskan generasi baru. Semoga saja ini menjadi semangat kampung-kampung lain yang ada di Banten khususnya. 

Acara dimulai dengan sambutan perwakilan dari TBM Maca Mancak yang bawakan oleh Masrori lalu diambil alih oleh Kiki Zakia alumni Kelas Menulis Angkatan 4 sebagai MC. Dilanjut dengan perkenalan relawan Rumah Dunia serta dilanjut dengan kreasi anak-anak dari TBM Maca Mancak dengan menampilkan pembacaan puisi dan nyanyi. Teh Mita, istri presiden Rumah Dunia juga ikut mendongeng untuk anak-anak dari Mancak itu. Sedangkan Rosmiati dan Epir tidak mau kalah. Mereka juga menampilkan pembacaan puisinya. Dan di akhir acara ada tanya jawab dari Kiki Zakia sebagai MC dengan memberikan beberapa hadiah untuk anak-anak dari Mancak yang berani menjawab dan berani tampil di depan panggung. Setelah itu, Tyas Tatanka sebagai penasehat Rumah Dunia juga memberikan petuah kecilnya untuk anak-anak dari TBM Maca Mancak. Sampai acara selesai dan tamu dari TBM Maca Mancak pun pulang. Setelah berpamitan dan harapan dari TBM Maca Mancak akan datang ke Rumah dunia lagi dengan membawa suasana yang baru dari anak-anak dididiknya. Dan dari Rumah Dunia pun bila ada kesempatan waktu akan datang ke Mancak. Setalah dari TBM Maca Mancak, Rumah Dunia kedatangan keluarga dari show room motor Honda MS Kemakmuran Serang. Keluarga itu datang ke RD hanya untuk tahu dan sekaligus menikmati hari libur dengan piknik ke suatu tempat yang lain dari yang lain. Ya, Rumah Dunia.

 (Muhzen_den alumni SMK Pasundan 2 Serang, mahasiswa semester 2 Diksatrasia FKIP Untirta dan Pj. Kedai Buku Jawara)  

Posted in Jurnal | Leave a Comment »

PERSIAPAN ODE KAMPUNG 2 DAN BANTEN BANGKIT

Posted by muhden on June 29, 2007

“Alon-alon asal kelakon”. Istilah itu pas untuk menggambarkan suasana di Rumah Dunia. Beberapa hari ini komunitas sastra di Serang-Banten sedang sibuk melakukan persiapan   hajatan “Ode Kampung 2: Temu Komunitas Sastra Se-Nusantara”, 20 – 22 Juli 2007. Setelah Ode Kampung 1 pada Februari 2006 mendapat respon baik, kami yakin  Ode kampung 2 akan meledak. Sudah ratusan orang mendaftar lewat email panitia; odekampung2@yahoo.com.   Mereka dari Aceh, Padang, Palembang, Kalimantan, Sulawesi, Bogor, Bandung, Cirebon, Bekasi, Majalengka, Yogya, Tegal, Jember, Ngawi, Bali, dan masih banyak lagi. Kami sebagai panitia harus menjadi tuan rumah yang baik.

 BEBEGIG KECIL

Senin (25/6/7) sore, beberapa anak kecil memilin-milin jerami yang diambil dari sawah oleh relawan Rumah Dunia; Awi dan Renhard. Ada yang mengikatnya dengan kawat besi dan menggunting jerami  berbentuk boneka kecil. Mereka sedang membuat bebegig, orang-orangan sawah. Mereka senang membuat bebegig, karena itu hal terbaru yang pernah mereka lakukan.

“Pak, kayak gini?” tanya Hadi pada tutor wisata gambar Rumah Dunia, Pak Indra Kesuma, yang sedang mengawasi anak-anak yang saat itu. “Nah, begitu bagus. Coba tambah lagi jerami biar terlihat bagus bonekanya,” seru Pak Indra mengambil sedikit jerami; dia memberi contoh pada anak-anak yang ikut membantu.

Boneka-boneka bebegig itu sengaja dibuat untuk kepentingan artistik pada Ode kampung 2. Persiapan demi persiapan untuk menghadapi hari H kami lakukan. Seperti Selasa (26/6/7) kemarin, kami  melakukan rapat lagi. Wowok Hesti Prabowo, Firman Venayaksa,  Wan Anwar, Toto ST Radik, dan beberapa relawan Rumah Dunia hadir memerinci dana. Gola Gong muncul belakangan sepulang dari kantor sambil menyerahkan daftar pemasukan dana kepada Firman. “Kas Rumah Dunia Rp. 5 jt, Forum Kesenian Banten Rp. 1 jt, Kubah Budaya Untirta Rp. 300 ribu, Padhiputih Rp. 1 jt, Fahri Asiza Rp. 500 ribu, Gagas media Rp. 500 ribu,” Firman membacakan dafar itu. “Masih ada yang mau ngasih. Tinggal kita ambil. STIE Banten Rp. 500 ribu dan STIKOM Wangsa Jaya Rp. 500 ribu.”

 DISKUSI 30 JUNI 2007

Tapi bukan Rumah Dunia kalau tidak mengadakan diskusi di setiap akhir pekan. Walaupun kami sedang sibuk mempersiapkan “Ode Kampung 2”, Klab Diskusi Rumah Dunia yang dikomandani Langlang Randhawa, bekerjasama dengan Koran Jurnal Nasional, Jakarta, akan mengadakan diskusi dengan tema “Banten Bangkit”: Membentuk Generasi Cerdas, Kreatif, Kritis, Inovatif dengan Jurnalistik dan Sastra untuk Menuju Banten Nagari Rahayu Jaya Santika. Dalam diskusi itu menghadirkan pembicara Noor Syamsuddin Ch. Haesy, Pimpinan Umum Koran Jurnal Nasional. Moderator langsung oleh Firman Venayaksa selaku presiden Rumah Dunia dan dosen Untirta Serang.

Kenapa harus “Banten Bangkit”? Langlang selaku PJ Klab Diskusi menjelaskan, “Bukan hanya kebangkitan nasional saja yang harus kita dukung, tapi  kebangkitan di Banten pun harus kita peringati, agar kata kebangkitan bersifat bukan hanya merasakan saja, melainkan mengalami langsung perubahan demi perubahan untuk memajukannya.”  Langlang menyarankan, “Pelajar dan mahasiswa di Banten harus datang. Pembicaranya oke punya. Dia pernah jadi menejer program TPI, dosen di Malaysia, dan ini yang mengejutkan. Dia cucu residen pertama Banten, Achmad Chotib.”

Diskusi “Banten Bangkit” dilaksanakan pada Sabtu, 30 juni 2007, pukul 13.30 WIB, bertempat di Rumah Dunia Komplek Hegar Alam No 40, Ciloang Serang. Bagi kawan-kawan atau saudara yang peduli dan masih memiliki rasa nasionalis atau kelokalan terhadap bangsa dan daerahnya, diharapkan kehadirannya pada acara ini. Untuk duduk bersama mendiskusikan masalah kebangkitan lokal, yang kian hari kian terkikis rasa kelokalannnya. Untuk itu, mari kita bangkit. Membangun Banten cerdas dengan jurnalistik dan sastra.

(Muhzen_den, Pj. Kedai Buku Jawara dan mahasiswa Diksatrasia FKIP Untirta)

Posted in Jurnal | Leave a Comment »

Femina, Pelatihan, World Book Day dan TV Lokal

Posted by muhden on May 2, 2007

Femina

Di pagi yang cerah,  Minggu (22/4) jam 9.00, Rumah Dunia kedatangan tamu dari sebuah majalah wanita nasional (Femina). Dia adalah pak Heryus, editor majalah Femina. Ia datang ke Rumah Dunia untuk tugas jurnalistik. Sebelumnya, Rabu sore (19/4) Pak Heryus sudah pernah datang ke Rumah Dunia. Tapi, menurutnya kurang sreg, karena waktunya terbatas. Jadi hari Minggu itu ia luangkan waktunya untuk mendalami Rumah Dunia. “Untuk menulis yang baik tidak bisa sekilas. Harus pendalaman, makanya saya ke sini lagi. Sekalian bawa keluarga bertamasya,”ungkap lelaki yang mengaku sudah 23 tahun menjadi wartawan ini. Kedatangan Pak Heryus tentu saja disambut gembira oleh para relawan dan teman-teman FLP Serang yang setiap Minggu mengadakan Training Menulis (TRALIS) di Rumah Dunia. Bahkan Pak Heryus didaulat menjadi pembicara tamu dalam pertemuan tersebut. Selain membahas tentang dunia kepenulisan, Heryus juga membicarakan pengalamannya menjadi wartawan dan editor Femina.
Para peserta yang didominasi remaja, terlihat serius menyaksikan paparan Heryus. Setelah menjadi pembicara di Kelas Tralis, Pak Heryus juga berbagi pengalaman dengan anak-anak kelas menulis Rumah Dunia angkatan 9.

Pelatihan

Di tengah kesibukan Rumah Dunia menyiapkan untuk mengikuti World Book Day di Jakarta. Dinas Sosial (Dinsos) Kab. Serang  meminta salah seorang relawan Rumah Dunia untuk mengikuti pelatihan untuk pemberdayaan anak-anak di Lembang, Bandung, selama 10 hari.

“Ini sebagai langkah awal sebelum Dinsos mengadakan kerjasama lebih lanjut dengan Rumah Dunia,” kata Bu Farida yang menghubungi RD. Tias Tatanka, penasehat RD yang mendapatkan informasi itu langsung meneruskannya kepada relawan. “Dinsos minta satu orang. Mereka berharap Rumah Dunia bisa mengirimkan utusannya,” kata Tias. Awalnya kami sedikit ragu-ragu apalagi kerjaan di Rumah Dunia pekan ini masih numpuk. Diskusi mingguan dan persiapan untuk mengikuti World Book Day sudah menanti.

Setelah mengadakan rapat akhirnya disetujui  Langlang Rhandawa, sekretaris RD yang merangkap sebagai penanggungjawab diskusi diutus untuk mengikuti pelatihan di Lembang. Tanggung jawab acara diskusi dan surat menyurat untuk sementara diserahkan ke Muhzen, Penangggungjawab buku. Senin (23/4) pagi Langlang berangkat ke Lembang untuk memenuhi tugasnya mengikuti pelatihan. Tentu saja ini adalah langkah untuk meningkatkan sinergisitas Rumah Dunia dengan masyarakat luas.

World Book Day

Langlang berangkat ke Bandung. Relawan yang tersisa tetap menyiapkan untuk  World Book Day. Rimba tampak wara-wiri menyiapkan perlengkapan, sementara Indra Kesuma, terus mengukir-ukir sterefoam. Deden tak kalah ketinggalan sibuknya, dibantu Roy dan Awi meyiapkan buku-buku yang hendak dibawa ke Jakarta. Mang Sapit dan Aji menyiapkan bebegig yang ketinggalan diurusi.

 

“Kiray, Buku sudah siap,” kata Rimba yang ditunjuk sebagai penanggungjawab saat hendak berangkat ke acara World Book Day di Jakarta. World Book Day ini memang sedikit serius dalam soal perbukuan. Even ini diselenggarakan oleh Forum Indonesia Membaca (FIM) dibawah pimpinan Wien Muldian. Wien tak lain adalah salah satu penasehat Rumah Dunia. Selain Rumah Dunia banyak komunitas-komunitas yang peduli literasi berpameran di sini. Tempat pelaksanaanya di DEPDIKNAS, Jakarta. Acara ini akan berlangsung selama tiga hari pada 26-29 April 2007. Pada Rabu (25/4), jam 2 siang Rimba dan dua relawan lainnya Shodik dan Tohir perwakilan dari RD berangkat menuju tempat pelaksanaan. Rencananya, di sana RD akan mengisi salah satu acara yaitu pemutaran Film Multatuli yang merupakan hasil garapan teman-teman audiovisual RD.

Firman Venayaksa, sang Presiden Rumah Dunia jadwalnya akan menjadi pembicara pada diskusi Multatuli itu. Saat rapat persiapan, Firman mengatakan agar tidak main-main karena RD adalah perwakilan satu-satunya dari Banten. Apalagi keikutsertaan Rumah Dunia ini adalah untuk kedua kalinya. Tahun lalu, dimana World Book Day perdana digelar RD mendapat apresiasi yang hangat dari beberapa pengunjung. Dengan isu kampung dan kelokalannya berhasil memukau para pengunjung. Gola Gong, sang pendiri mengungkapkan moment seperti ini sangat baik untuk memperbanyak jaringan relasi dan mempromosikan budaya literasi yang sedang berkembang di Banten. Dengan slogan,  Simpan Golokmu dan Asah Penamu yang  merupakan ide Toto ST Radik semoga bisa mengubah imej Jawara yang tidak bisa lepas dari Banten.   

TV Lokal

Pena harus terus diasah. Terus. Dan salah satu untuk membuat pena tajam adalah berdiskusi. Karena itulah hampir setiap dua pekan RD selalu mengadakan diskusi. Pada akhir bulan ini, RD akan mendiskusikan soal Banten TV. “TV Lokal Untuk Siapa?” itulah tema acara diskusi untuk Sabtu (28/4) besok. Acara diskusi akan dimulai pada pukul 13.30 WIB. Dengan menghadirkan beberapa pembicara yang kompeten di bidang komunikasi dan jurnalistik seperti: Djauhari Ardiwinata (GM. Banten TV), Eneng Nurcahyati (Kabiro Humas Pemprov Banten) dan Alam Rachmis (Reporter Harian Antv). Dengan kompetensi masing-masing semoga bisa memberikan penjelasan yang menarik dari sudut pandang yang berbeda mengenai TV lokal dan manfaatnya pada masyarakat Banten. TV lokal iki dak sape? Ape manfaate? Ayo kita diskusikan bersama. Datang saja ke Rumah Dunia karena ini penting demi kemajuan Banten kelak. Aje kelingan ya, dulur-dulur.* * *

(Muhzen_den, mahasiswa semester II Diksatrasia FKIP Untirta dan Pj. Kedai Buku Jawara)

Posted in Jurnal | Leave a Comment »

Dari Diskusi Sastra, Arswendo Hingga LSM Karang Widya

Posted by muhden on April 12, 2007

Diskusi Sastra
Sabtu (07/4), siang itu begitu panas. Di pelataran Rumah Dunia tampak sepi. Roni dan Deden sedang asyik tiduran di lantai panggung utama setelah lelah membereskan seting pangggung ala kadarnya dengan menempel beberapa kertas putih yang berbentuk huruf ke layar hitam dengan tulisan “Bedah Majalah Horison” yang diyakini sebagai majalah sastra. Siang itu RD akan melaksanakan diskusi dengan pembicara Agus R Sarjono dan Wan Anwar sebagai redaktur Horison. Sayangnya, Agus R Sarjono tidak dapat hadir karena ada kesibukan mendadak.Acara diskusi yang direncanakan pukul 13.30 Wib berangsur lambat. Selain karena pembicaranya belum datang juga peserta diskusinya pun hanya ada beberapa orang saja. Tapi, bukan berarti diskusi tidak berjalan. Berapapun orangnya yang hadir pada acara siang itu diskusi tetap akan dilaksanakan. Pada  jam 14.30 Wib acara diskusi dimulai setelah pembicara dan peserta diskusi berdatangan. Diskusi bedah majalah sastra Horison dimoderatori oleh Rimba Alangalang. Wan Anwar selaku redaktur memaparkan majalah sastra Horison dan beberapa kaitannya dengan para sastrawan yang ada di belakang meja redaksi, hingga menjalar ke beberapa topik yang masih dalam konteks sastra. Meskipun peserta yang hadir pada acara diskusi itu tidak banyak, namun diskusi tersebut sangat menarik, karena beberapa peserta diskusi antusias menyimak penjelasan dari pembicara dan beberapa respon pun muncul.

Arswendo
Minggu (08/4), pukul 10 pagi Rumah Dunia kedatangan tamu istimewa dari Jakarta yaitu Arswendo Atmowiloto seorang penulis buku dan skenario, produser film juga pemilik PH, dengan membawa beberapa temannya dari PH. Pagi itu di Rumah Dunia pun sedang ramai-ramainya. Ada anak-anak yang sedang antri mendaftar untuk mengikuti lomba, acara Tralis FLP Serang dan juga beberapa relawan lain yang akan mengikuti kelas sekenario TV. Kedatangan Arswendo ke Rumah Dunia sebenarnya sudah direncanakan dan ditunggu jauh-jauh hari. Arswendo datang ke Rumah Dunia ada tujuannya yaitu meliput kegiatan yang ada di  Rumah Dunia, yang nanti hasil liputannya akan ditayangkan di stasiun TV Education. Gola Gong, Tias, Firman Venayaksa dan para relawan pun sangat senang didatangi orang macam Arswendo. Ini suatu kesempatan yang berharga bagi Rumah Dunia. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh kami. Setelah Areswendo dan beberapa temannya dari PH film meliput kegiatan yang ada pada hari itu yang menampilkan lomba-lomba yang diperuntukan buat anak-anak kecil seperti lomba gambar, baca puisi dan acting, hari itu juga diadakan acara diskusi dengan narasumber Arswendo, dan diikuti oleh para relawan, peserta kelas menulis angkatan IX dan peserta Tralis FLP Serang. Diskusi hari itu cukup hangat, bahkan Gola Gong rela menjadi moderatornya. Seperti yang diakui oleh Gola Gong, Arswendo adalah seorang guru yang tanpa pamrih mengajarkan ia menulis. Arswendo merupakan sosok yang cukup bersahaja. Dia tak hanya mau mentransfer ilmu menulis, ia juga sanggup memotivasi relawan RD untuk terus berkarya. “Saya menulis skenario sinetron ‘Mengapa Harus Inul’ dibayar 275 juta untuk satu episode. Ini motivasi buat kalian bahwa menulis itu cukup menjanjikan” ungkap penulis sinetron Keluarga Cemara ini.

LSM Karang Widya
Selasa (10/4), sore Rumah Dunia kedatangan tamu lagi. Yang ini dari LSM Karang Widya Bogor. Mereka datang ke Rumah Dunia dalam rangka penyuluhan pertanian. Intinya untuk memperkenalkan ilmu pertanian dan menawarkan workshop selama tiga bulan. Info ini ditujukan kepada pemuda-pemuda kampung atau anak-anak jalanan yang butuh perhatian. Rumah Dunia ditunjuk sebagai fasilitator untuk memberitahukan informasi itu ke orang-orang yang di maksud dari LSM Karang Widya. Sekitar 20 orang dari pemuda Ciloang datang ke Rumah Dunia dan menyimak informasi yang disampaikan. Setelah selesai menyampaikan informasi tersebut tamu dari karang Widya itu pun berpamitan. Dan keputusan orang-orang yang akan mengikuti magang diberitahukan nanti. Penyuluhan ini bukan hanya di Serang saja tapi di beberapa tempat, yang memang sangat menginginkan kesempatan itu. Jadi jangan sia-siakan kesempatan yang sudah di depan mata. Ayo pemuda Ciloang, bangkitlah!* * *

Muhzen_den, warga Ciloang,  mahasiswa semester II Diksatrasia FKIP Untirta dan Pj. Kedai Buku Jawara Rumah Dunia.

Posted in Jurnal | 1 Comment »

Sumbangan Buku, Program Baru dan Padi Memerah

Posted by muhden on April 12, 2007

Sabtu (25/11), sehari sebelum Pilgub Banten Rumah Dunia (RD) kedatangan mobil mewah warna hitam. Kami menyakangka mobil itu adalah tim sukses salah satu calgub Banten yang bakal memberi iming-iming ke RD. Karena waktu itu kami lagi hangat-hangatnya membicarakan Pilkada Banten yang penuh money politic. Tapi  setelah penumpang mobil itu membuka kaca mobilnya, kami sadar dia adalah tamu yan akan menyumbangkan buku-buku koleksinya ke RD.

Penumpang itu adalah seorang wanita setengah baya yang mengaku bernama Maria A. Murtati, asal Jakarta. Selain membawa buku Murtati yang ditemani oleh anak wanitanya bersama dua sahabatnya juga membawa bingkisan untuk-untuk anak-anak RD. Anak-anak yang sedang bermain itu terlihat gembira. Bu Murtati yang bekerja sebagai pebisnis disalah satu lembaga internasional ini merasa tertarik dengan gaya konsep RD yang mendekatkan anak pada buku. Murtati bercerita kalau anaknya yang masih sekolah dasar itu kadang susah menemukan komunitas buku. ”Lingkungan seperti ini sangat baik buat anak-anak,” ujar Murtati. Ketertarikannya itulah yang mendorong Bu Murtati menyumbangkan sebagian buku-bukunya. Sumbangan buku juga datang dari penerbit Assyamil, Bandung. Berupa tulisan-tulisan intelektual muslim asal Turki Harun Yahya. Sebelumnya, sudah hampir dua bulan ini RD dikirimi koran anak Berani. Kami tidak tahu yang menyumbang itu siapa. Tukang koran yang mengirimi ke RD bilang pokoknya ada yang membayari tanpa mengatakan nama orangnya.  

Program Baru
Kedatangan Bu Murti yang dari Jakarta ke RD menunjukan perhatian serta dukungan terhadap RD semakin bertambah, meski pun masih moril. Nah untuk itulah kami akan menggunakan dukungan itu  dengan melaksakan program-program baru yang inovatif. Semoga Firman Venayaksa orang yang diberikan amanat untuk menahkodai RD bisa melahirkan program yang inovatif. Tentu saja dibawah pengawasan Gola Gong,Tias Tatanka dan Toto St Radik sebagai penasehatnnya. Jalan itu ditempuh mengingat orang-orang RD sadar kalau kita butuh regenarasi. Firman tentu saja nanti menyerahkannya kepada generasi selanjutnya.  Nah, banyak hal yang diimpikan oleh RD yang belum terlaksana semasa dalam kendali Gola Gong. Untuk itulah pada Rabu (28/11) Firman dan dedengkot relawan seperti Aji Setiakarya, Rimba Alang-Alang, Langlang Rhandawa, Indra Kesuma, Piter Tamba, Bonang Purbaya dan saya sendiri urun rembuk membicarakan program tahun depan dengan ditemani kopi hangat dan pisang goreng. Oh, iya diantara kami juga ada Royadi dan Alwi, keduanya adalah pemuda Ciloang yang kami daulat jadi relawan baru. Tentu saja Gola Gong dan Toto St Radik hadir menemani kita.  Dengan bergabungnya putra daerah ini semoga kinerja RD semakin sukses.

Untuk kontens 2007 nanti. Program regular yang terdiri dari wisata dongeng, wisata tulis, wisata, gambar, wisata lakon yang berlangsung Senin – Jum’at tetap menjadi menu utama. Hanya harinya saja yang berganti. Wisata gambar yang awalnya Selasa berganti ke Senin. Selasa-wisata nyanyi, Rabu-wisata lakon, Kamis – wisata tulis sedangkan wisata dongeng akan berlangsung hari Jum’at. Sedangkan Sabtu dan Minggu akan tetap menjadi waktu favorit untuk digunakan dikusi dan kelas menulis pelajar, mahasiswa dan umum.

Selain kegiatan regular yang telah menjadi ikon itu. RD akan mendatangkan banyak penulis, yang dikemas dalam acara temu pengarang. Beberapa penulis yang sudah didaftar antaralain, Budi Putra (penulis teknologi), Agus Sarjono (penulis budaya),dan tentu saja banyak yang lainnya. Musikalisasi puisi dan monolog serta Ode Kampug yang ke-2 menjadi agenda RD 2007. Darimana duitnya? Nah ini dia yang terus kita pikirkan. Sampai saat ini uang dari donatur itu hanya cukup untuk membiayi operasional RD. Sementara untuk event-event kami harus menggalang dana dari yang lainnya. Atau merogoh kocek Gola Gong. ”Tetapi kita rencanakan saja. Biasanya juga rezeki muncul dengan sendirinya,” Firman meyakinkan.

Nah, program selanjutnya RD dengan TOP FM Cilegon bakal menjalin kerjasama. RD bakal mencantumkan logo TOP FM Cilegon dengan kompensasi TOP FM memberitakan event-event yang berlangsung di Rumah Dunia. Semoga kerjasama ini juga terjalin dengan komunitas lainnya.

Padi Memerah
Sebelumnya pada selasa (28/11). Shoting Padi Memerah (PM) dimulai lagi pada Rabu (29/11). Untuk mematangkan rencanan pada  Selasa (28/11), kami kru RD dan Scen 10 berkumpul. Dengan dipimpin oleh pimpinan produksi, Rimba Alang-alang rapat membahas tentang ketersediaan dana RD untuk kelanjutan PM. Rimba berharap sisa shooting yang masih  20 % itu bisa selesai selama sepekan ini. ”Ini mengingat dana yang dibutuhkan untuk PM sudah semakin tipis,” kata Rimba. Selain tentang dana dalam rapat itu juga dibahas rencana roadshow ke sekolah-sekolah yang ada di Banten. ”Paling tidak kalau Desember ini selesai, tahun depan RD bisa roadshow film indie RD,” kata Aji yang menjadi produser.  

Setelah shot film PM.  RD dan GMC akan mengadakan workshop untuk para finalis Banten Star  yang bakal shoting  film Saija dan Adinda yang akan dilaksanakan tahun depan. Workshop ini akan diadakan selama tiga hari mulai 22-24 Desember 2006. Rencananya bertempat di Rumah Dunia dengan menggunakan rumah penduduk. ”Selama workshop ini para finalis Banten Star akan digembleng dalam berteater serta diperkenalkan dengan istilah-istilag film,” ungkap Piter Tamba, wakil direktur GMC. Ini, kata Piter untuk membentuk mental dan jiwa menjadi aktor sejati. Semoga dengan workshop ini para finalis Banten Star yang akan mengikuti film Saija dan Adinda sudah terbiasa dengan keadaan dilapangan. Nah, ayo!***

Muhzen_den adalah mahasiswa Diksatrasia Untirta dan PJ. Perpustakaan Surosowan Rumah Dunia.

Posted in Jurnal | 3 Comments »