“Allah tidak akan merubah nasib sebuah kaum sebelum kaum itu sendiri yang berusaha merubahnya”( Al-quran).
Penggalan kalimat sakti di atas menyatakan bahwa: seseorang akan berubah nasibnya apabila orang itu berusaha merubahnya atau sebaliknya. Seseorang akan berbuat nekad mengambil keputusan apabila ia telah mengatahui hambatan dan ujian yang akan dihadapi.
Akhir Desember 2006 lalu, tepatnya malam menjelang hari raya Idul Adha 1427 Hijriyah, Rumah Dunia kedatangan seorang laki-laki yang aneh dan nekad dari Tangerang ke Serang menggunakan sepeda keranjang. Seseorang itu bernama Shadik. Dia lelaki kelahiran Jawa Tengah yang tinggal di Tangerang. Ia keukeuh sekali untuk tahu Rumah Dunia dan ingin ikut kelas menulis Rumah Dunia. Kami saat itu hanya bisa berdecak kagum dengan pengorbanan Shadik. Ternyata masih ada juga orang seperti Shadik di zaman seperti ini. Hanya untuk mencari ilmu, ia jauh-jauh datang ke Rumah Dunia dengan kendaraan tak berpolusi itu. Luar biasa!
Sesosok lelaki aneh dan nekad itu kini tak bersepeda lagi. Ia sudah meninggalkan sepedanya setelah menyatakan menerima tawaran jadi relawan Rumah Dunia. Bahkan Shadik juga mengambil keputusan yang tak di sangka-sangka. Ada konsekuensi terhadap setiap keputusan. Kini ia rela kehilangan pekerjaannya sebagai pengantar roti hanya untuk menjadi relawan di Rumah Dunia. Yang ini lebih nekad lagi. Benar-benar orang aneh!
Pada Kamis (10/5) siang, Shadik datang ke Rumah Dunia dengan membawa bekal sedikit baju dan buku-buku. Saat itu ia siap menjadi relawan di Rumah Dunia. Siap berjungkir-balik, tertatih, lintang-pukang, untuk menempa diri di kawah candradimuka bernama Rumah Dunia. Setelah melewati tenggang waktu selama satu bulan, kami berikan kesempatan kepada Shadik untuk memikirkan kembali resiko-resiko yang akan terjadi ketika sudah siap tempur di Rumah Dunia. Bahwa menjadi relawan itu tidak gampang dan butuh pengorbanan. ”Di sini kami tidak semata luka fisik, tetapi psikis juga!” ujar Firman Venayaksa, selaku presiden Rumah Dunia sambil terkekeh saat memba’iat Shadik sebegai relawan. Yah, di Rumah Dunia akan banyak kegiatan yang menguras energi fisik. Selain itu, benturan-benturan ide dan gagasan tak jarang melukai psikis. Apalagi Shadik adalah remaja perantauan yang singgah ke Tangerang hanya untuk mencari kerja walaupun sebagai tukang roti. Tapi, melihat semangatnya yang begitu besar kami yakin adalah orang-orang pilihan yang sudah berjodoh dengan Rumah Dunia. Ia lebih memilih mengabdi untuk orang lain ketimbang dirinya sendiri. Namun, kami dari Rumah Dunia juga akan menjamin Shadik menjadi Shadik yang benar-benar Shadik, dengan apapun caranya. Menjadi relawan yang kental dengan sebutan pelayan bukanlah sesuatu yang buruk. Melainkan sesuatu yang mulia di mata Allah khususnya dan umumnya di mata masyarakat.Derajat relawan kalau dipahami secara lurus dan sadar sama dengan dewan di DPR: Pelayan masyarakat! Lalu bukankah kita layak untuk berbangga diri?
Kunjungan
Minggu (13/5) pagi, kesibukan Shadik sebagai relawan baru Rumah Dunia sudah dimulai. Sejak pagi tiba ia sudah tekun menyapu halaman Rumah Dunia dibantu relawan lain yang sudah lama menetap di Rumah Dunia. Salah satu kegiatan biasa disaat hari libur datang, yaitu gotong royong. Kebetulan pagi itu juga Rumah Dunia akan kedatangan tamu dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Maca Mancak.
Sebelumnya, Sabtu (12/5) sore, Rumah Dunia juga kedatangan dua orang tamu dari Depok. Mereka adalah Mas Erwin dan Mahat. Tujuan mereka hanya untuk lebih tahu tentang Rumah Dunia. Karena sebelumnya Mas Erwin dan Mahat ini pernah membuat sanggar tapi tak bertahan lama. Jadi dengan datang ke Rumah Dunia semoga saja mereka dapat membangun kembali sanggarnya yang baru dengan konsep baru juga. Tahan lama juga.
Jam 9.00 di pelataran Rumah Dunia sudah ramai oleh peserta Tralis FLP Serang dan kelas sekenario yang biasa diadakan tiap seminggu sekali. Tapi, tamu yang di tunggu-tunggu itu belum juga datang. Sampai menginjak siang hari dan sedikit turun hujan. Akhirnya tamu dari TBM Maca Mancak itu pun datang tepatnya jam 12.30, dengan membawa 40 orang anak beserta mentor-mentornya. Kedatangan mereka disambut banyak orang yang ada di Rumah Dunia. Tujuan dari mereka tak lain kujungan biasa sekaligus perkenalan bahwa di Kecamatan Mancak Kp. Blokang telah berdiri sebuah komunitas taman baca masyarakat yang bernama Maca Mancak semenjak 2004. TBM tersebut diketuai oleh Masrori dan kawan-kawan. Intinya hampir sama dengan visi-misi Rumah Dunia. Yaitu mencerdaskan generasi baru. Semoga saja ini menjadi semangat kampung-kampung lain yang ada di Banten khususnya.
Acara dimulai dengan sambutan perwakilan dari TBM Maca Mancak yang bawakan oleh Masrori lalu diambil alih oleh Kiki Zakia alumni Kelas Menulis Angkatan 4 sebagai MC. Dilanjut dengan perkenalan relawan Rumah Dunia serta dilanjut dengan kreasi anak-anak dari TBM Maca Mancak dengan menampilkan pembacaan puisi dan nyanyi. Teh Mita, istri presiden Rumah Dunia juga ikut mendongeng untuk anak-anak dari Mancak itu. Sedangkan Rosmiati dan Epir tidak mau kalah. Mereka juga menampilkan pembacaan puisinya. Dan di akhir acara ada tanya jawab dari Kiki Zakia sebagai MC dengan memberikan beberapa hadiah untuk anak-anak dari Mancak yang berani menjawab dan berani tampil di depan panggung. Setelah itu, Tyas Tatanka sebagai penasehat Rumah Dunia juga memberikan petuah kecilnya untuk anak-anak dari TBM Maca Mancak. Sampai acara selesai dan tamu dari TBM Maca Mancak pun pulang. Setelah berpamitan dan harapan dari TBM Maca Mancak akan datang ke Rumah dunia lagi dengan membawa suasana yang baru dari anak-anak dididiknya. Dan dari Rumah Dunia pun bila ada kesempatan waktu akan datang ke Mancak. Setalah dari TBM Maca Mancak, Rumah Dunia kedatangan keluarga dari show room motor Honda MS Kemakmuran Serang. Keluarga itu datang ke RD hanya untuk tahu dan sekaligus menikmati hari libur dengan piknik ke suatu tempat yang lain dari yang lain. Ya, Rumah Dunia.
(Muhzen_den alumni SMK Pasundan 2 Serang, mahasiswa semester 2 Diksatrasia FKIP Untirta dan Pj. Kedai Buku Jawara)